2. Traits (Sifat-sifat)
Traits ini berfungsi untuk mengintegrasikan
kebiasaan, sikap, dan keterampilan kepada pola-pola berpikir, merasa, dan
bertindak. Sementara konsep diri berfungsi untuk mengintegrasikan
kapasitas-kapasitas psikologis dan prakarsa-prakarsa kegiatan.
Traits dapat diartikan sebagai aspek atau dimensi
kepribadian yang terkait dengan karakteristik respon atau reaksi seseorang yang
relatif konsisten (ajeg) dalam rangka menyesuaikan dirinya secara khas. Dapat
diartikan juga sebagai kecenderungan yang dipelajari untuk mereaksi rangsangan
dari lingkungan.
Deskripsi dan definisi traits di atas
menggambarkan bahwa traits merupakan kecenderungan-kecenderungan yang
dipelajari untuk (a) mengevaluasi situasi dan (b) mereaksi situasi dengan
cara-cara tertentu.
Setiap traits mempunyai tiga
karakteristik: (a) Uniqueness, kekhasan dalam berperilaku, (b) likeableness,
yaitu bahwa trait itu ada yang disenangi (liked) dan ada yang tidak
disenangi (disliked), sebab traits itu berkontribusi kepada keharmonisan
atau ketidakharmonisan, kepuasan atau ketidakpuasan orang yang mempunyai traits tersebut. Traits yang disenangi
seperti: jujur, murah hati, sabar, kasih sayang, peduli, dan bertanggung jawab.
Sedangkan yang tidak disenangi seperti: egois, tidak sopan, ceroboh, pendendam,
dan kejam/bengis. Sikap seseorang terhadap traits ini merupakan hasil belajar
dari lingkungan sosialnya; dan (c) consistency, artinya bahwa seseorang
itu diharapkan dapat berperilaku atau bertindak secara ajeg.
Sama halnya dengan “self-concept”, “traits”
pun dalam perkem-bangannya dipengaruhi oleh faktor hereditas dan belajar.
Faktor yang paling mempengaruhi adalah (a) pola asuh orang tua, dan (b) imitasi
anak terhadap orang yang menjadi idolanya. Beberapa trait dipelajari
secara “trial dan error”, artinya belajar anak lebih bersifat kebetulan,
seperti perilaku agresif dalam mereaksi frustasi. Contohnya: anak menangis
sambil membanting pintu kamarnya, gara-gara tidak dibelikan mainan yang
diinginkannya. Apabila dengan perbuatan agresifnya itu, orang tua akhirnya
membelikan mainan yang diinginkan anak, maka anak cenderung akan mengulangi
perbuatan tersebut. Demikian terjadi pada orang dewasa bersikap kurang percaya
kepada orang lain sehingga menunjukkan perilaku suka protes seperti “unjuk
rasa” sambil berperilaku brutal terhadap ketidakpuasan manajerial perusahaan
atau menuntut kenaikan gaju kepada perusahaan. Para pengunjuk rasa melakukan
aksi protes dengan cara brutal tersebut apabila pada akhirnya dipenuhi oleh
perusahaan maka cara-cara protes demikian akan diulang-ulang untuk
mengintimidasi para pengambil kebijakan.
Anak juga belajar (memahami) bahwa traits atau sifat-sifat dasar tertentu
sangat dihargai (dijunjung tinggi) oleh semua kelompok budaya secara universal,
seperti: kejujuran, respek terhadap hak-hak orang lain, disiplin,
tanggungjawab, dan sikap apresiatif.
Meskipun kepribadian seseorang itu relatif
konstan, namun dalam kenyataan sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian itu
dapat dan mungkin terjadi. Perubahan itu terjadi dipengaruhi oleh faktor
gangguan fisik dan lingkungan.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
perubahan kepribadian di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Faktor
Fisik, seperti: gangguan otak, kurang gizi (malnutrisi) mengkonsumsi obat-obat
terlarang (NAPZA atau NARKOBA), minuman keras, dan gangguan organik (sakit atau
kecelakaan).
b. Faktor
Lingkungan Sosial Budaya, seperti: krisis politik, ekonomi, moral, dan
keamanan dapat menyebabkan terjadinya masalah pribadi (stress, depresi) dan
masalah sosial (pengangguran, premanisme, dan kriminalitas).
c. Faktor
Diri Sendiri, seperti: tekanan emosional (frustasi yang berkepanjangan),
dan identifikasi atau imitasi tehadap orang lain yang berkepribadian
menyimpang.
Secara garis besar faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian, yaitu
hereditas (genetika) dan lingkungan (environment).
1.
Faktor Genetika (Pembawaan)
Perpaduan bawaan ayah dan ibu baik fisik maupun
psikis akan menentukan potensi-potensi hereditas anak. Beberapa riset tentang
perkembangan pranatal (sebelum kelahiran atau masa dalam kandungan) menunjukkan
bahwa kemampuan menyesuaikan diri terhadap kehidupan setelah kelahiran (post
natal) bersumber pada saat konsepsi.
Pada saat dalam kandungan dipandang sebagai masa
(periode) kritis perkembangan kepribadian, sebab bukan saja sebagai masa
pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagai masa pembentukan
kemampuan-kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap
kehidupan setelah kelahiran.
Pengaruh pewarisan orang tua terhadap
kepribadian, sebenarnya tidak secara langsung, karena yang dipengaruhi
genetikan secara langsung adalah (a) kualitas sistem syarat, (b) keseimbangan
biokimia tubuh, dan (c) struktur tubuh.
Lebih lanjut ditemukenali bahwa fungsi hereditas
kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah: (a) sebagai sumber bahan
mentah (raw materials) kepribadian
seperti: fisik, inteligensi, dan temperamen dan (b) membatasi kondisi
lingkungannya sangat kondusif, perkembangan kepribadian (sekalipun perkembangan
kepribadian itu tidak dapat melebihi kapasitas atau potensi heredita) dan
mempengaruhi keunikan kepribadian.
Sebagaimana dikemukakan oleh Cattel, dkk. bahwa
kemampuan belajar dan penyesuaian diri individu dibatasi oleh sifat-sifat yang
inheren dalam organisme individu itu sendiri. Misalnya fisik (perawakan,
energi, kekuatan, dan kemenarikan) dan kapasitas intelektual (cerdas, normal,
atau terbelakang). Walaupun begitu, batas-batas perkembangan kepribadian,
bagaimanapun lebih besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Misalnya, seorang anak laki-laki yang tubuhnya
kurus, ia akan mengembangkan konsep diri yang kurang nyaman (negatif), bila ia
berkembang dalam lingkungan sosial yang sangat menghargai nilai-nilai
keberhasilan atletik dan merendahkan kesuksesan dalam bidang lain yang
diperolehnya. Demikian seorang anak perempuan yang wajahnya kurang menarik, ia
akan merasa rendah diri bila berada di lingkungan keluarga atau lingkungan
sosial yang sangat menghargai perempuan dari segi kecantikannya.
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa hereditas
mempengaruhi konsep diri individu sebagai dasar individualitasnya (keunikannya)
sehingga tidak ada dua orang yang mempunyai pola-pola kepribadian yang sama,
sekalipun kembar identik. Menurut C.S. Hall, dimensi-dimensi temperamen:
emosionalitas, aktivitas, agresivitas, dan reaktivitas bersumber dari gen
demikian halnya dengan inteligensi.
Berikut ini studi tetang pengaruh hereditas
terhadap kepribadian yang dilakuakan oleh Pervin (dalam Yusuf, 2002). Keragaman
konstitusi (postur) tubuh, bahwa karakteristik fisik berhubungan dengan
kepribadian. Hippocrates meyakini bahwa temperamen manusia dapt dijelaskan
berdasarkan cairan-cairan tubuhnya. Kretschemer mengklasifikasikan postur tubuh
individu pada tiga tipe utama,dan satu tipe campuran.
Tipe Piknis (stenis):
pendek, gemuk, perut besar, dada dan bahunya bulat. Tipe Asthenis (leptosom): tinggi dan ramping, perut
kecil, dan bahu sempit. Tipe Atletik: postur tubuhnya harmonis (tegap, bahu
lebar, perut kuat, otot kuat). Tipe Displastis: tipe penyimpangan dari ketiga
bentuk di atas
Tipe-tipe tersebut berkaitan dengan: (a) gangguan
mental, seperti tipe piknis berhubungan dengan manik depresif dan asthenis
dengan schizophrenia, dan (b) karakteristik individu yang normal seperti tipe
piknis mempunyai sifat-sifat: bersahabat dan tenang sedangkan asthenis bersifat
serius, tenang, dan senang menyendiri.
Sebagaimana Sheldon telah mengklasifikasikan
postur tubuh manusia adalah: endomorphy,
mesomorphy, dan ectomorphy. Klasifikasi
ini didasarkan pada hasil pengukuran terhadap aspek-aspek struktural individu
yang diambil dari 4000 foto pria telanjang dari posisi depan, belakang, dan
samping. Dalam mengembangkan skema untuk mengukur temperamen Sheldon menyusun
650 sifat-sifat menjadi 50 sifat dipilih sebagai dasar penilaian terhadap 33
orang pria yang diwawancarai secara intensif. Hasilnya ia mengkategorikan 3
temperamen, yaitu: viscerotonia,
somatotonia, dan cerebrotonia.
Tipologi temperamen oleh Sheldon:
|
SOMATOTIPE
|
TEMPERAMEN
|
SIFAT-SIFAT
|
|
1.
Endomorp= piknis
(pendek, gemuk)
|
viscerotonia
|
Tenang,
pandai bergaul, senang bercinta, gemar makan, tidur nyenyak
|
|
2.
Mesomorp= atletik
(tubuh harmonis)
|
somatotonia
|
Aktif,
asertif, kompetetif, teguh, dan agresif
|
|
3. Ectomorp= astenis
(tinggi,
kurus)
|
cerebrotonia
|
Introvert
(senang menyendiri), menahan diri, peragu, kurang berani bergaul dengan orang
banyak, (sociophobia), kurang berani berbicara di depan orang banyak
|
Tipologi temperamen oleh Galenius:
|
TEMPERAMEN
|
SIFAT-SIFAT
|
|
1. Sanguinis
|
a. Sifat dasar: periang, optimis, percaya diri
b. Sifat perasannya: mudah menyesuaikan diri,
tidak stabil, baik hati, tidak serius, kurang dapat dipercaya karena kurang
begitu konsekuen
|
|
2. Melankolis
|
a. Sifat dasar: pemurung, sedih, pesimistis,
kurang percaya diri
b. Sifat lainnya: merasa tertekan dengan masa
lalunya, sulit menyesuaikan diri, berhati-hati, konsekuen, dan suka menepati
janji
|
|
3. Koleris
|
a. Sifat dasar: selalu merasa kurang puas,
bereaksi negatif, dan agresif
b. Sifat lainnya: mudah tersinggung (emosional),
suka membuat provokasi, tidak mau mengalah, tidak sabaran, tidak toleran,
kurang memiliki rasa homor, cenderung beroposisi, dan banyak inisiatif
(usaha)
|
|
4. Plegmatis
|
a. Sifat dasar: pendiam, tenang, netral (tidak
ada aura perasaan), stabil
b. Sifat lainnya: merasa cukup puas, tidak
peduli (acuh tak acuh), dingin hati (tidak mudah haru), pasif, tidak
mempunyai banyak minat, bersifat lambat, sangat hemat, dan tertib/teratur
|
2.
Faktor Lingkungan (environment)
Faktor lingkungan mempengaruhi kepribadian adalah:
keluarga, kebudayaan, dan sekolah.
a.
Keluarga
Iklim
keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis yaitu yang dapat
memberikan curahan kasih sayang, perhatian, dan bimbingan dalam beragama, maka
perkembangan kepribadian anak cenderung positif, sehat (welladjusted). Sebaliknya anak yang dibawa pengasuhan lingkungan
keluarga broken home, kurang
harmonis, orangtua bersikap keras, kurang memperhatikan nilai-nilai agama, maka
perkembangan kepribadiannya cenderung mengalami distorsi atau mengalami
kelainan dalam menyesuaikan diri (maladjusted).
Dorothy Law Nolte (Hurlock, 1978: Yusuf, 2002),
menggambarkan pengaruh keluarga terhadap perkembangan kepribadian anak sebagai
berikut:
“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar
memaki”
“Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia
belajar berkelahi”
“Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar
rendah diri”
“Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia
belajar menyesali diri”
“Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia
belajar menahan diri”
“Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar
percaya diri”
“Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar
menghargai”
“Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik
perlakukan, ia belajar keadilan”
“Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar
menyenangi dirinya”
“Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia
belajar menemukan cinta”
Demikian Baldwin, dkk (Yusuf, 2002) mengemukakan
temuan penelitiannya bahwa anak yang dikembangkan dalam iklim pengasuhan demokratis,
maka ia cenderung memiliki kepribadian lebih aktif, lebih bersikap sosial,
lebih memiliki harga diri (percaya diri), lebih memiliki keinginan dalam bidang
intelektual, lebih orisinil, dan lebih konstruktif dibandingkan dengan anak
yang dibesarkan dalam iklim otoriter.
Schaefer (Yusuf, 2002) mengkombinasikan pola
tingkah laku ibu terhadap anak antara love
(cinta kasih sayang) atau hostility (permusuhan),
dan control atau autonomy.
b.
Kebudayaan
Kluckhohn berpendapat bahwa “kebudayaan
meregulasi kehidupan kita sejak lahir sampai mati, baik disadari maupun tidak
yang mempengaruhi kita untuk mengikuti pola-pola perilaku tertentu yang telah
dibuat orang lain untuk kita”.
Pola-pola perilaku yang sudah terkembangkan dalam
masyarakat (bangsa) tertentu (seperti bentuk adat istiadat) sangat memungkinkan
mereka untuk memiliki karakteristik kepribadian tertentu yang sama. Kesamaan
karakteristik ini mendorong berkembangnya konsep kepribadian dasar (Kardiner: Yusuf,
2002) dan karakter nasional atau bangsa (Gorer: Yusuf, 2002).
Berikut contoh tipe kepribadian suku Indiana Maya
dan Alorese. Suku Indiana memiliki karakteristik: rajin, kurang peka terhadap
penderitaan, fatalistik, tidak takut mati, independen namun tidak kompetitif,
tidak demonstratif dalam mengekspresikan perasaan, dan jujur. Sementara suku
Alorese berkarakteristik: cemas, curiga, kurang percaya diri, kurang berminat
ke dunia luar, sangat membutuhkan dorongan kasih sayang, kurang memiliki
dorongan untuk mengembangkan keterampilan, dan suka mengkompensasi perasaan
rendah dirinya dengan membuat dan membangga-banggakan diri.
Setiap bangsa di dunia memiliki kepribadian dasar
yang relatif berbeda, sebagaimana bangsa Indonesia memiliki kepribadian dasar: religius,
ramah, kurang disiplin, bangsa Jepang: ulet, kreatif, dan disiplin; dan bangsa
Amerika: optimis, perspektif, disiplin, ulet dalam menyelesaikan sesuatu, namun
individualistik.
Pentingnya peranan kebudayaan terhadap
perkembangan kepribadian seseorang tergantung pada tiga prinsip di antaranya:
(a) pengalaman awal dalam kehidupan dalam keluarga, (b) pola asuh orangtua
terhadap anak, dan (c) pengalaman awal dalam kehidupan anak dalam masyarakat. Jika
anak-anak memiliki pengalaman awal kehidupan yang sama dalam suatu masyarakat
maka mereka cenderung akan memiliki karakteristik kepribadian yang sama pula.
c.
Sekolah
Lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kepribadian
anak. Faktor yang dipandang berpengaruh itu di antaranya adalah:
1)
Iklim emosional kelas
Suasana kelas yang sehat (guru yang ramah, respek
antar siswa) memberi dampak posif bagi perkembangan psikis anak, mereka menjadi
aman, nyaman, bahagia, mau bekerjasama, termotivasi untuk belajar, mau mentaati
peraturan. Sebaliknya kelas yang tidak sejuk (guru bersikap otoriter, tidak
menghargai siswa) berdampak kurang baik bagi perkembangan anak, mereka merasa
tegang, nervous, mudah marah, malas belajar, berperilaku mengganggu di kelas,
tidak tertib.
2)
Sikap dan perilaku guru
Sikap dan perilaku guru tercermin dalam
hubungannya dengan siswa (human
relationship). Hubungan guru-siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain: strerotip budaya terhadap guru (pribadi dan profesi), positif atau
negatif, sikap dan pola pembimbingan guru terhadap siswa, metode mengajar,
penegakan disiplin di kelas, dan penyesuaian pribadi guru. Sikap dan perilaku
guru secara langsung mempengaruhi “self-concept”
siswa, melalui sikap-sikapnya terhadap tugas akademik (kesungguhan dalam
mengajar), kedisiplinan dalam mentaati peraturan sekolah, dan perhatiannya
terhadap siswa. Secara tidak langsung, pengaruh guru ini terkait dengan
upayanya membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan penyesuaian sosialnya.
3)
Disiplin
Penegakan
tata tertib di lingkungan sekolah akan membentuk sikap dan tingkah laku siswa.
Disiplin yang kaku akan mengembangkan sifat-sifat pribadi siswa yang tegang,
nervous, dan antagonistik. Disiplin yang bebas, cenderung membentuk sifat siswa
yang kurang bertanggungjawab, kurang menghargai otoritas, dan egosentris. Sementara
disiplin yang demokratis, cenderung mengembangkan perasaan berharga, merasa
bahagia, perasaan tenang, dan sikap bekerjasama.
4)
Prestasi Belajar
Pencapaian
prestasi belajar atau peringkat kelas mempengaruhi peningkatan harga diri dan
sikap percaya diri siswa
5)
Penerimaan Teman Sebaya
Siswa
yang diterima oleh teman-temannya, ia akan mengembangkan sikap positif terhadap
dirinya, dan juga orang lain. Ia merasa menjadi orang yang berharga.
Salah satu kata kunci dan definisi kepribadian adalah
“penyesuaian (adjustment)”. Menurut Alexander A. Schneiders (1964), penyesuaian itu dapat diartikan sebagai “Suatu proses respon individu, baik yang
bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan
dari dalam diri, tegangan emosional, frustasi dan konflik; dan memelihara
keharmonisan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma)
lingkungan”.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan atau memecahkan
masalah yang dihadapi, ternyata tidak semua individu mampu menampilkannya
secara wajar, normal atau sehat (well adjustment); di antara mereka
banyak juga yang mengalaminya secara tidak sehat (maladjustment).
E.B. Hurlock (1987) mengemukakan bahwa
penyesuaian yang sehat atau kepribadian yang sehat (healty personality)
ditandai dengan karakteristik sebagai berikut.
1. Mampu menilai diri secara realistik. Individu yang
berkepribadian sehat mampu menilai dirinya sebagaimana apa adanya, baik
kelebihan maupun kekurangan atau kelemahannya, yang menyangkut fisik (postur
tubuh, wajah, keutuhan, dan kesehatan) dan kemampuan (kecerdasan, dan
keterampilan).
2. Mampu menilai situasi secara realistik. Individu dapat
menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan
mau menerimanya secara wajar. Dia tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu
sebagai suatu yang harus sempurna.
3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik.
Individu dapat menilai prestasinya (keberhasilan yang diperolehnya) secara
realistik dan mereaksinya secara rasional. Dia tidak menjadi sombong, angkuh
atau mengalami “ superiority complex”, apabila memperoleh prestasi yang
tinggi atau kesuksesan dalam hidupnya. Apabila mengalami kegagalan, dia tidak
mereaksinya dengan frustasi, tetapi dengan sikap optimistik (penuh harapan).
4. Menerima tanggung jawab. Individu yang sehat adalah
individu yang bertanggung jawab. Dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya
untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5. Kemandirian (autonomy). Individu memiliki sifat mandiri
dalam berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan
mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di
lingkungannya.
6. Dapat mengontrol emosi. Individu merasa nyaman dengan
emosinya. Dia dapat menghadapi situasi frustasi, depresi atau stress secara
positif atau konstruktif, tidak destruktif (merusak).
7. Berorientasi tujuan. Setiap orang memiliki tujuan yang
ingin dicapainya. Namun, dalam merumuskan tujuan itu ada yang realistik ada
yang tidak realistik. Individu yang sehat kepribadiannya dapat merumuskan
tujuannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar
paksaan dari luar. Dia berupaya untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara
mengembangkan kepribadian (wawasan, perilaku) dan keterampilan.
8. Berorientasi
keluar. Individu yang sehat memiliki orientasi keluar (ekstrovert).
Dia bersifat respek, empati terhadap orang lain mempunyai kepedulian terhadap
situasi, atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam
berpikirnya. Barret Leonard mengemukakan sifat-sifat individu yang berorientasi
keluar, yaitu (a) menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya sendiri;
(b) merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain; (c) tidak membiarkan dirinya
dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan tidak mengorbankan orang lain
karena kekecewaan dirinya.
9. Penerimaan sosial. Individu dinilai positif oleh orang
lain, mau berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, dan memiliki sikap
bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
10. Memiliki filsafat hidup. Dia mengarahkan hidupnya
berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari agama, keyakinan, way of life yang dianutnya.
11. Berbahagia. Individu yang sehat, situasi kehidupannya
diwarnai kebahagiaan. Kebahagiaan ini didukung oleh faktor-faktor achievment
(pencapaian prestasi), acceptance (penerimaan dari orang lain), dan affection
(perasaan dicintai atau disayangi orang lain).
Berikut ini karakteristik kepribadian yang tidak
sehat:
1.
Mudah marah (tersinggung), panik
2.
Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan berlebihan
3.
Sering merasa tertekan (stres dan dipresi)
4.
Bersikap kejam atau senang mengganggu orang
lain yang umurnya lebih muda atau terhadap binatang (sikap intimidasi)
5.
Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku
menyimpang sekalipun sudah diperingatkan atau dihukum
6.
Mempunyai kebiasaan berbohong, berdusta
7.
Hiperaktif
8.
Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
9.
Senang mengkritik/mencooh orang lain
10.
Sulit tidur
11.
Kurang memiliki rasa tanggungjawab
12.
Sering mengalami pusing kepala (meskipun
penyebabnya bukan bersifat fisiologis)
13.
Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati
ajaran agama
14.
Bersikap pesimis dalam menghadapi kehidupan
15.
Kurang bergairan dalam kehidupan (“loyo”)
Kelainan perilaku di atas berkembang bilamana
anak hidup dalam lingkungan yang tidak kondusif dalam perkembangannya. Misalnya,
lingkungan keluarga yang kurang berfungsi (disfunctional
family) bercirikan “broken home”,
hubungan antar anggota keluarga kurang harmonis, kurang menjunjung nilai-nilai
agama, orangtua bersikap keras atau kurang memberikan perhatian dengan kasih
sayang kepada putra-putrinya.
Berkembangnya kelainan kepribadian pada umumnya
disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang baik, maka upaya pencegahan
seyogyanya dilakukan oleh pihak keluarga, sekolah, dan pemerintah bekerja sama
untuk menciptakan iklim lingkungan yang memfasilitasi atau memberikan kemudahan
kepada anak untuk mengembangkan potensi atau tugas-tugas perkembangannya secara
optimal, baik menyangkut fisik, psikis, sosial, dan moral-spiritual.
Teori psikologi kepribadian sebagaimana di sebut
di atas aplikasinya dalam bidang organisasi, leadership, pendidikan, konseling
dan psikoterapi adalah:
1.
Psikologi
Organisasi
Seting organisasi di lingkungan industri dan
lingkungan sekolah, rumah sakit, militer dan olah raga. Psikologi kepribadian
berusaha untuk memperoleh keseimbangan antara keefektivan organisasi dengan
kepuasan anggotanya, membantu pemecahan problem anggota dan motivasi kelompok.
Pakar kepribadian banyak mengaplikasikan perspektif lingkungan yang menekankan
saling ketergantungan antara individu dengan organisasi. Aplikasi psikologi
organisasi di dunia persekolahan dibutuhkan kehadiran pemimpin yang berpotensi
mengayomi anggota, berperilaku jujur, kasih sayang kepada sesama, perhatian,
terbuka, disiplin, bertanggungjawab, kreatif, menantang terhadap peluang
perkembangan, dan sebagainya.
2.
Psikologi
Konseling
Senada dengan psikologi klinik, psikologi
konseling menangani gangguan tingkah laku yang ringan, penderita masih dapat
melakukan tugas sehari-hari dengan baik, bekerja dan atau berkomunikasi
layaknya orang normal. Konselor memberi bantuan kepada konseli memilih jurusan
dan karir masa depan, menangani hambatan penyesuaian dalam kaitannya dengan
belajar, sosial, pekerjaan, perkawinan, dan kondisi fisik.
3.
Psikologi
Pendidikan
Psikologi kepribadian membantu mengembangkan
kepribadian guru, mengenali kepribadian peserta didik dan memanfaatkannya untuk
mengoptimalkan prestasi pendidikan, melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap
kebutuhan sekolah dengan tuntutan masyarakat._____________(Bersambung)
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM
Press.
Boeree, C.G. 2006. Personality Theories.Melacak Kepribadian
Anda Bersama Psikolog Dunia. Terjemahan oleh Inyik Rindwan Muzir.
Yogyakarta: Prismasophie
Hurlock, E.B. 1987. Personality Development. New Delhi:
McGraw-Hill Publishing Company.
Schneiders. A.A. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New
York: Winston.
Suryabrata, S. 2003. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada Press.
Wenzler, G dan Cremer. 1993.
Proses Pengembangan Diri: Permainan dan
Latihan Dinamika Kelompok. Jakarta: Grasindo.
Yusuf, Sy. 2002. Pengantar Teori Kepribadian. Bandung:
Jurusan PPB FIP UPI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar