Selasa, 29 September 2015

Pengembangan Kepribadian (Bag. 2)

2. Traits (Sifat-sifat)
Traits ini berfungsi untuk mengintegrasikan kebiasaan, sikap, dan keterampilan kepada pola-pola berpikir, merasa, dan bertindak. Sementara konsep diri berfungsi untuk mengintegrasikan kapasitas-kapasitas psikologis dan prakarsa-prakarsa kegiatan.
Traits dapat diartikan sebagai aspek atau dimensi kepribadian yang terkait dengan karakteristik respon atau reaksi seseorang yang relatif konsisten (ajeg) dalam rangka menyesuaikan dirinya secara khas. Dapat diartikan juga sebagai kecenderungan yang dipelajari untuk mereaksi rangsangan dari lingkungan.
Deskripsi dan definisi traits di atas menggambarkan bahwa traits merupakan kecenderungan-kecenderungan yang dipelajari untuk (a) mengevaluasi situasi dan (b) mereaksi situasi dengan cara-cara tertentu.
Setiap traits mempunyai tiga karakteristik: (a) Uniqueness, kekhasan dalam berperilaku, (b) likeableness, yaitu bahwa trait itu ada yang disenangi (liked) dan ada yang tidak disenangi (disliked), sebab traits itu berkontribusi kepada keharmonisan atau ketidakharmonisan, kepuasan atau ketidakpuasan orang yang mempunyai traits tersebut. Traits yang disenangi seperti: jujur, murah hati, sabar, kasih sayang, peduli, dan bertanggung jawab. Sedangkan yang tidak disenangi seperti: egois, tidak sopan, ceroboh, pendendam, dan kejam/bengis. Sikap seseorang terhadap traits ini merupakan hasil belajar dari lingkungan sosialnya; dan (c) consistency, artinya bahwa seseorang itu diharapkan dapat berperilaku atau bertindak secara ajeg.
Sama halnya dengan “self-concept”, “traits” pun dalam perkem-bangannya dipengaruhi oleh faktor hereditas dan belajar. Faktor yang paling mempengaruhi adalah (a) pola asuh orang tua, dan (b) imitasi anak terhadap orang yang menjadi idolanya. Beberapa trait dipelajari secara “trial dan error”, artinya belajar anak lebih bersifat kebetulan, seperti perilaku agresif dalam mereaksi frustasi. Contohnya: anak menangis sambil membanting pintu kamarnya, gara-gara tidak dibelikan mainan yang diinginkannya. Apabila dengan perbuatan agresifnya itu, orang tua akhirnya membelikan mainan yang diinginkan anak, maka anak cenderung akan mengulangi perbuatan tersebut. Demikian terjadi pada orang dewasa bersikap kurang percaya kepada orang lain sehingga menunjukkan perilaku suka protes seperti “unjuk rasa” sambil berperilaku brutal terhadap ketidakpuasan manajerial perusahaan atau menuntut kenaikan gaju kepada perusahaan. Para pengunjuk rasa melakukan aksi protes dengan cara brutal tersebut apabila pada akhirnya dipenuhi oleh perusahaan maka cara-cara protes demikian akan diulang-ulang untuk mengintimidasi para pengambil kebijakan.
Anak juga belajar (memahami) bahwa traits atau sifat-sifat dasar tertentu sangat dihargai (dijunjung tinggi) oleh semua kelompok budaya secara universal, seperti: kejujuran, respek terhadap hak-hak orang lain, disiplin, tanggungjawab, dan sikap apresiatif.

Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataan sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian itu dapat dan mungkin terjadi. Perubahan itu terjadi dipengaruhi oleh faktor gangguan fisik dan lingkungan.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kepribadian di antaranya adalah sebagai berikut.
a.   Faktor Fisik, seperti: gangguan otak, kurang gizi (malnutrisi) mengkonsumsi obat-obat terlarang (NAPZA atau NARKOBA), minuman keras, dan gangguan organik (sakit atau kecelakaan).
b.   Faktor Lingkungan Sosial Budaya, seperti: krisis politik, ekonomi, moral, dan keamanan dapat menyebabkan terjadinya masalah pribadi (stress, depresi) dan masalah sosial (pengangguran, premanisme, dan kriminalitas).
c.    Faktor Diri Sendiri, seperti: tekanan emosional (frustasi yang berkepanjangan), dan identifikasi atau imitasi tehadap orang lain yang berkepribadian menyimpang.
Secara garis besar faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian, yaitu hereditas                              (genetika) dan lingkungan (environment).

1.        Faktor Genetika (Pembawaan)
Perpaduan bawaan ayah dan ibu baik fisik maupun psikis akan menentukan potensi-potensi hereditas anak. Beberapa riset tentang perkembangan pranatal (sebelum kelahiran atau masa dalam kandungan) menunjukkan bahwa kemampuan menyesuaikan diri terhadap kehidupan setelah kelahiran (post natal) bersumber pada saat konsepsi.
Pada saat dalam kandungan dipandang sebagai masa (periode) kritis perkembangan kepribadian, sebab bukan saja sebagai masa pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagai masa pembentukan kemampuan-kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran.
Pengaruh pewarisan orang tua terhadap kepribadian, sebenarnya tidak secara langsung, karena yang dipengaruhi genetikan secara langsung adalah (a) kualitas sistem syarat, (b) keseimbangan biokimia tubuh, dan (c) struktur tubuh.
Lebih lanjut ditemukenali bahwa fungsi hereditas kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah: (a) sebagai sumber bahan mentah (raw materials) kepribadian seperti: fisik, inteligensi, dan temperamen dan (b) membatasi kondisi lingkungannya sangat kondusif, perkembangan kepribadian (sekalipun perkembangan kepribadian itu tidak dapat melebihi kapasitas atau potensi heredita) dan mempengaruhi keunikan kepribadian.
Sebagaimana dikemukakan oleh Cattel, dkk. bahwa kemampuan belajar dan penyesuaian diri individu dibatasi oleh sifat-sifat yang inheren dalam organisme individu itu sendiri. Misalnya fisik (perawakan, energi, kekuatan, dan kemenarikan) dan kapasitas intelektual (cerdas, normal, atau terbelakang). Walaupun begitu, batas-batas perkembangan kepribadian, bagaimanapun lebih besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Misalnya, seorang anak laki-laki yang tubuhnya kurus, ia akan mengembangkan konsep diri yang kurang nyaman (negatif), bila ia berkembang dalam lingkungan sosial yang sangat menghargai nilai-nilai keberhasilan atletik dan merendahkan kesuksesan dalam bidang lain yang diperolehnya. Demikian seorang anak perempuan yang wajahnya kurang menarik, ia akan merasa rendah diri bila berada di lingkungan keluarga atau lingkungan sosial yang sangat menghargai perempuan dari segi kecantikannya.
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa hereditas mempengaruhi konsep diri individu sebagai dasar individualitasnya (keunikannya) sehingga tidak ada dua orang yang mempunyai pola-pola kepribadian yang sama, sekalipun kembar identik. Menurut C.S. Hall, dimensi-dimensi temperamen: emosionalitas, aktivitas, agresivitas, dan reaktivitas bersumber dari gen demikian halnya dengan inteligensi.
Berikut ini studi tetang pengaruh hereditas terhadap kepribadian yang dilakuakan oleh Pervin (dalam Yusuf, 2002). Keragaman konstitusi (postur) tubuh, bahwa karakteristik fisik berhubungan dengan kepribadian. Hippocrates meyakini bahwa temperamen manusia dapt dijelaskan berdasarkan cairan-cairan tubuhnya. Kretschemer mengklasifikasikan postur tubuh individu pada tiga tipe utama,dan satu tipe campuran.
Tipe Piknis (stenis): pendek, gemuk, perut besar, dada dan bahunya bulat. Tipe Asthenis (leptosom): tinggi dan ramping, perut kecil, dan bahu sempit. Tipe Atletik: postur tubuhnya harmonis (tegap, bahu lebar, perut kuat, otot kuat). Tipe Displastis: tipe penyimpangan dari ketiga bentuk di atas
Tipe-tipe tersebut berkaitan dengan: (a) gangguan mental, seperti tipe piknis berhubungan dengan manik depresif dan asthenis dengan schizophrenia, dan (b) karakteristik individu yang normal seperti tipe piknis mempunyai sifat-sifat: bersahabat dan tenang sedangkan asthenis bersifat serius, tenang, dan senang menyendiri.
Sebagaimana Sheldon telah mengklasifikasikan postur tubuh manusia adalah: endomorphy, mesomorphy, dan ectomorphy. Klasifikasi ini didasarkan pada hasil pengukuran terhadap aspek-aspek struktural individu yang diambil dari 4000 foto pria telanjang dari posisi depan, belakang, dan samping. Dalam mengembangkan skema untuk mengukur temperamen Sheldon menyusun 650 sifat-sifat menjadi 50 sifat dipilih sebagai dasar penilaian terhadap 33 orang pria yang diwawancarai secara intensif. Hasilnya ia mengkategorikan 3 temperamen, yaitu: viscerotonia, somatotonia, dan cerebrotonia.

Tipologi temperamen oleh Sheldon:
SOMATOTIPE
TEMPERAMEN
SIFAT-SIFAT
1.      Endomorp= piknis
       (pendek, gemuk)
viscerotonia
Tenang, pandai bergaul, senang bercinta, gemar makan, tidur nyenyak
2.      Mesomorp= atletik
       (tubuh harmonis)
somatotonia
Aktif, asertif, kompetetif, teguh, dan agresif
3.    Ectomorp= astenis
       (tinggi, kurus)
cerebrotonia
Introvert (senang menyendiri), menahan diri, peragu, kurang berani bergaul dengan orang banyak, (sociophobia), kurang berani berbicara di depan orang banyak

Tipologi temperamen oleh Galenius:
TEMPERAMEN
SIFAT-SIFAT
1.    Sanguinis
a.    Sifat dasar: periang, optimis, percaya diri
b.    Sifat perasannya: mudah menyesuaikan diri, tidak stabil, baik hati, tidak serius, kurang dapat dipercaya karena kurang begitu konsekuen
2.    Melankolis
a.    Sifat dasar: pemurung, sedih, pesimistis, kurang percaya diri
b.    Sifat lainnya: merasa tertekan dengan masa lalunya, sulit menyesuaikan diri, berhati-hati, konsekuen, dan suka menepati janji
3.    Koleris
a.    Sifat dasar: selalu merasa kurang puas, bereaksi negatif, dan agresif
b.    Sifat lainnya: mudah tersinggung (emosional), suka membuat provokasi, tidak mau mengalah, tidak sabaran, tidak toleran, kurang memiliki rasa homor, cenderung beroposisi, dan banyak inisiatif (usaha)
4.    Plegmatis
a.    Sifat dasar: pendiam, tenang, netral (tidak ada aura perasaan), stabil
b.    Sifat lainnya: merasa cukup puas, tidak peduli (acuh tak acuh), dingin hati (tidak mudah haru), pasif, tidak mempunyai banyak minat, bersifat lambat, sangat hemat, dan tertib/teratur

2.        Faktor Lingkungan (environment)
       Faktor lingkungan mempengaruhi kepribadian adalah: keluarga, kebudayaan, dan sekolah.

a.        Keluarga
Iklim keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang       dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis yaitu yang dapat memberikan curahan kasih sayang, perhatian, dan bimbingan dalam beragama, maka perkembangan kepribadian anak cenderung positif, sehat (welladjusted). Sebaliknya anak yang dibawa pengasuhan lingkungan keluarga broken home, kurang harmonis, orangtua bersikap keras, kurang memperhatikan nilai-nilai agama, maka perkembangan kepribadiannya cenderung mengalami distorsi atau mengalami kelainan dalam menyesuaikan diri (maladjusted).
Dorothy Law Nolte (Hurlock, 1978: Yusuf, 2002), menggambarkan pengaruh keluarga terhadap perkembangan kepribadian anak sebagai berikut:
“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki”
“Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi”
“Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri”
“Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri”
“Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri”
“Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri”
“Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai”
“Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakukan, ia belajar keadilan”
“Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya”
“Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta”
Demikian Baldwin, dkk (Yusuf, 2002) mengemukakan temuan penelitiannya bahwa anak yang dikembangkan dalam iklim pengasuhan demokratis, maka ia cenderung memiliki kepribadian lebih aktif, lebih bersikap sosial, lebih memiliki harga diri (percaya diri), lebih memiliki keinginan dalam bidang intelektual, lebih orisinil, dan lebih konstruktif dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dalam iklim otoriter.
Schaefer (Yusuf, 2002) mengkombinasikan pola tingkah laku ibu terhadap anak antara love (cinta kasih sayang) atau hostility (permusuhan), dan control atau autonomy.

b.        Kebudayaan
Kluckhohn berpendapat bahwa “kebudayaan meregulasi kehidupan kita sejak lahir sampai mati, baik disadari maupun tidak yang mempengaruhi kita untuk mengikuti pola-pola perilaku tertentu yang telah dibuat orang lain untuk kita”.
Pola-pola perilaku yang sudah terkembangkan dalam masyarakat (bangsa) tertentu (seperti bentuk adat istiadat) sangat memungkinkan mereka untuk memiliki karakteristik kepribadian tertentu yang sama. Kesamaan karakteristik ini mendorong berkembangnya konsep kepribadian dasar (Kardiner: Yusuf, 2002) dan karakter nasional atau bangsa (Gorer: Yusuf, 2002).
Berikut contoh tipe kepribadian suku Indiana Maya dan Alorese. Suku Indiana memiliki karakteristik: rajin, kurang peka terhadap penderitaan, fatalistik, tidak takut mati, independen namun tidak kompetitif, tidak demonstratif dalam mengekspresikan perasaan, dan jujur. Sementara suku Alorese berkarakteristik: cemas, curiga, kurang percaya diri, kurang berminat ke dunia luar, sangat membutuhkan dorongan kasih sayang, kurang memiliki dorongan untuk mengembangkan keterampilan, dan suka mengkompensasi perasaan rendah dirinya dengan membuat dan membangga-banggakan diri.
Setiap bangsa di dunia memiliki kepribadian dasar yang relatif berbeda, sebagaimana bangsa Indonesia memiliki kepribadian dasar: religius, ramah, kurang disiplin, bangsa Jepang: ulet, kreatif, dan disiplin; dan bangsa Amerika: optimis, perspektif, disiplin, ulet dalam menyelesaikan sesuatu, namun individualistik.
Pentingnya peranan kebudayaan terhadap perkembangan kepribadian seseorang tergantung pada tiga prinsip di antaranya: (a) pengalaman awal dalam kehidupan dalam keluarga, (b) pola asuh orangtua terhadap anak, dan (c) pengalaman awal dalam kehidupan anak dalam masyarakat. Jika anak-anak memiliki pengalaman awal kehidupan yang sama dalam suatu masyarakat maka mereka cenderung akan memiliki karakteristik kepribadian yang sama pula.

c.         Sekolah
Lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kepribadian anak. Faktor yang dipandang berpengaruh itu di antaranya adalah:
1)        Iklim emosional kelas
Suasana kelas yang sehat (guru yang ramah, respek antar siswa) memberi dampak posif bagi perkembangan psikis anak, mereka menjadi aman, nyaman, bahagia, mau bekerjasama, termotivasi untuk belajar, mau mentaati peraturan. Sebaliknya kelas yang tidak sejuk (guru bersikap otoriter, tidak menghargai siswa) berdampak kurang baik bagi perkembangan anak, mereka merasa tegang, nervous, mudah marah, malas belajar, berperilaku mengganggu di kelas, tidak tertib.
2)        Sikap dan perilaku guru
Sikap dan perilaku guru tercermin dalam hubungannya dengan siswa (human relationship). Hubungan guru-siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: strerotip budaya terhadap guru (pribadi dan profesi), positif atau negatif, sikap dan pola pembimbingan guru terhadap siswa, metode mengajar, penegakan disiplin di kelas, dan penyesuaian pribadi guru. Sikap dan perilaku guru secara langsung mempengaruhi “self-concept” siswa, melalui sikap-sikapnya terhadap tugas akademik (kesungguhan dalam mengajar), kedisiplinan dalam mentaati peraturan sekolah, dan perhatiannya terhadap siswa. Secara tidak langsung, pengaruh guru ini terkait dengan upayanya membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan penyesuaian sosialnya.
3)        Disiplin
       Penegakan tata tertib di lingkungan sekolah akan membentuk sikap dan tingkah laku siswa. Disiplin yang kaku akan mengembangkan sifat-sifat pribadi siswa yang tegang, nervous, dan antagonistik. Disiplin yang bebas, cenderung membentuk sifat siswa yang kurang bertanggungjawab, kurang menghargai otoritas, dan egosentris. Sementara disiplin yang demokratis, cenderung mengembangkan perasaan berharga, merasa bahagia, perasaan tenang, dan sikap bekerjasama.
4)        Prestasi Belajar
       Pencapaian prestasi belajar atau peringkat kelas mempengaruhi peningkatan harga diri dan sikap percaya diri siswa
5)        Penerimaan Teman Sebaya

       Siswa yang diterima oleh teman-temannya, ia akan mengembangkan sikap positif terhadap dirinya, dan juga orang lain. Ia merasa menjadi orang yang berharga.
Salah satu kata kunci dan definisi kepribadian adalah “penyesuaian (adjustment)”. Menurut Alexander A. Schneiders (1964), penyesuaian itu dapat diartikan sebagai “Suatu proses respon individu, baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, tegangan emosional, frustasi dan konflik; dan memelihara keharmonisan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan”.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan atau memecahkan masalah yang dihadapi, ternyata tidak semua individu mampu menampilkannya secara wajar, normal atau sehat (well adjustment); di antara mereka banyak juga yang mengalaminya secara tidak sehat (maladjustment).
E.B. Hurlock (1987) mengemukakan bahwa penyesuaian yang sehat atau kepribadian yang sehat (healty personality) ditandai dengan karakteristik sebagai berikut.
1.    Mampu menilai diri secara realistik. Individu yang berkepribadian sehat mampu menilai dirinya sebagaimana apa adanya, baik kelebihan maupun kekurangan atau kelemahannya, yang menyangkut fisik (postur tubuh, wajah, keutuhan, dan kesehatan) dan kemampuan (kecerdasan, dan keterampilan).
2.    Mampu menilai situasi secara realistik. Individu dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerimanya secara wajar. Dia tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai suatu yang harus sempurna.
3.    Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik. Individu dapat menilai prestasinya (keberhasilan yang diperolehnya) secara realistik dan mereaksinya secara rasional. Dia tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami “ superiority complex”, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan dalam hidupnya. Apabila mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustasi, tetapi dengan sikap optimistik (penuh harapan).
4.    Menerima tanggung jawab. Individu yang sehat adalah individu yang bertanggung jawab. Dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5.    Kemandirian (autonomy). Individu memiliki sifat mandiri dalam berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
6.    Dapat mengontrol emosi. Individu merasa nyaman dengan emosinya. Dia dapat menghadapi situasi frustasi, depresi atau stress secara positif atau konstruktif, tidak destruktif (merusak).
7.    Berorientasi tujuan. Setiap orang memiliki tujuan yang ingin dicapainya. Namun, dalam merumuskan tujuan itu ada yang realistik ada yang tidak realistik. Individu yang sehat kepribadiannya dapat merumuskan tujuannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar. Dia berupaya untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan, perilaku) dan keterampilan.
8.    Berorientasi keluar. Individu yang sehat memiliki orientasi keluar (ekstrovert). Dia bersifat respek, empati terhadap orang lain mempunyai kepedulian terhadap situasi, atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berpikirnya. Barret Leonard mengemukakan sifat-sifat individu yang berorientasi keluar, yaitu (a) menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya sendiri; (b) merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain; (c) tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan tidak mengorbankan orang lain karena kekecewaan dirinya.
9.    Penerimaan sosial. Individu dinilai positif oleh orang lain, mau berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
10.  Memiliki filsafat hidup. Dia mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari agama, keyakinan, way of life yang dianutnya.
11.  Berbahagia. Individu yang sehat, situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan. Kebahagiaan ini didukung oleh faktor-faktor achievment (pencapaian prestasi), acceptance (penerimaan dari orang lain), dan affection (perasaan dicintai atau disayangi orang lain).

Berikut ini karakteristik kepribadian yang tidak sehat:
1.         Mudah marah (tersinggung), panik
2.         Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan berlebihan
3.         Sering merasa tertekan (stres dan dipresi)
4.         Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang umurnya lebih muda atau terhadap binatang (sikap intimidasi)
5.         Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang sekalipun sudah diperingatkan atau dihukum
6.         Mempunyai kebiasaan berbohong, berdusta
7.         Hiperaktif
8.         Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
9.         Senang mengkritik/mencooh orang lain
10.     Sulit tidur
11.     Kurang memiliki rasa tanggungjawab
12.     Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan bersifat fisiologis)
13.     Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
14.     Bersikap pesimis dalam menghadapi kehidupan
15.     Kurang bergairan dalam kehidupan (“loyo”)

Kelainan perilaku di atas berkembang bilamana anak hidup dalam lingkungan yang tidak kondusif dalam perkembangannya. Misalnya, lingkungan keluarga yang kurang berfungsi (disfunctional family) bercirikan “broken home”, hubungan antar anggota keluarga kurang harmonis, kurang menjunjung nilai-nilai agama, orangtua bersikap keras atau kurang memberikan perhatian dengan kasih sayang kepada putra-putrinya.
Berkembangnya kelainan kepribadian pada umumnya disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang baik, maka upaya pencegahan seyogyanya dilakukan oleh pihak keluarga, sekolah, dan pemerintah bekerja sama untuk menciptakan iklim lingkungan yang memfasilitasi atau memberikan kemudahan kepada anak untuk mengembangkan potensi atau tugas-tugas perkembangannya secara optimal, baik menyangkut fisik, psikis, sosial, dan moral-spiritual.

Teori psikologi kepribadian sebagaimana di sebut di atas aplikasinya dalam bidang organisasi, leadership, pendidikan, konseling dan psikoterapi adalah:

1.        Psikologi Organisasi
Seting organisasi di lingkungan industri dan lingkungan sekolah, rumah sakit, militer dan olah raga. Psikologi kepribadian berusaha untuk memperoleh keseimbangan antara keefektivan organisasi dengan kepuasan anggotanya, membantu pemecahan problem anggota dan motivasi kelompok. Pakar kepribadian banyak mengaplikasikan perspektif lingkungan yang menekankan saling ketergantungan antara individu dengan organisasi. Aplikasi psikologi organisasi di dunia persekolahan dibutuhkan kehadiran pemimpin yang berpotensi mengayomi anggota, berperilaku jujur, kasih sayang kepada sesama, perhatian, terbuka, disiplin, bertanggungjawab, kreatif, menantang terhadap peluang perkembangan, dan sebagainya.

2.        Psikologi Konseling
Senada dengan psikologi klinik, psikologi konseling menangani gangguan tingkah laku yang ringan, penderita masih dapat melakukan tugas sehari-hari dengan baik, bekerja dan atau berkomunikasi layaknya orang normal. Konselor memberi bantuan kepada konseli memilih jurusan dan karir masa depan, menangani hambatan penyesuaian dalam kaitannya dengan belajar, sosial, pekerjaan, perkawinan, dan kondisi fisik.

3.        Psikologi Pendidikan
Psikologi kepribadian membantu mengembangkan kepribadian guru, mengenali kepribadian peserta didik dan memanfaatkannya untuk mengoptimalkan prestasi pendidikan, melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kebutuhan sekolah dengan tuntutan masyarakat._____________(Bersambung)

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.

Boeree, C.G. 2006. Personality Theories.Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Terjemahan oleh Inyik Rindwan Muzir. Yogyakarta: Prismasophie

Hurlock, E.B. 1987. Personality Development. New Delhi: McGraw-Hill Publishing Company.

Schneiders. A.A. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New York: Winston.

Suryabrata, S. 2003. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.

Wenzler, G dan Cremer. 1993. Proses Pengembangan Diri: Permainan dan Latihan Dinamika Kelompok. Jakarta: Grasindo.

Yusuf, Sy. 2002. Pengantar Teori Kepribadian. Bandung: Jurusan PPB FIP UPI. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar