Selasa, 29 September 2015

Pengembangan Kepribadian (Bag. 1)

A. Latar Belakang

Reformasi pendidikan di tanah air terjadi sejak ditetapkan ketentuan perundang-undangan. Diawali UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dilengkapi dengan PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PerMendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, PerMendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan, PerMendiknas nomor 24 tahun 2006 tentang Standar Proses, PerMendiknas nomor 18 tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru, serta PerMendiknas nomor 13 tentang Sertifikasi Kepala Sekolah. Ketentuan perundang-undangan tersebut merupakan hajat publik untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk karakter warga masyarakat Indonesia yang bermartabat.
Standar Nasional Pendidikan menetapkan 8 standar, yaitu: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelola, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. Tenaga Kependidikan di tingkat satuan pendidikan terdiri atas: Kepala TK/RA, Kepala SD/MI, Kepala SMP/MTs, Kepala SMA/MA, Kepala SMK/MAK, Kepala SDLB/SMPLB, dan SMALB, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga kebersihan.
Standar Kompetensi Kepala Sekolah meliputi (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi manajerial, (3) kompetensi supervisi, dan (4) kompetensi sosial. Sub-Kompetensi kepribadian terdiri atas: (1) memiliki integritas sebagai pemimpin, (2) memiliki keinginan yang kuat dalam mengembangkan diri sebagai Kepala Sekolah, (3) bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, (4) mengendalikan diri dalam menghadapi masalah sebagai Kepala Sekolah, dan (5) memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.
Dalam rangka meningkatkan mutu kinerja Kepala Sekolah senantiasa diselenggarakan DIKLAT berbasis kompetensi. Untuk mendukung kompetensi kepribadian Kepala Sekolah maka disiapkan bimbingan teknis Diklat Pengembangan Kepribadian. Diklat Pengembangan Kepribadian disusun menjadi 4 bagian, yakni (1) Psikologi Kepribadian tinjauan Teori dan Praktek, (2) Paradigma Psikologi Kepribadian: Psikoanalitik dan Trait, (3) Paradigma Psikologi Kepribadian: Kognitif dan Behavioristik, dan (4) Instrumen Pengembangan Diri.

B.    Konsep Psikologi Kepribadian

1.        Latar Psikologi Kepribadian
Ilmu Psikologi lahir pada akhir abad 18, salah satu topik yang menarik untuk dikaji adalah kepribadian. Sebagai ilmu, psikologi lahir, berusaha memahami manusia seutuhnya (totality), dapat dilakukan melalui pemahaman tentang kepribadian. Teori Psikologi Kepribadian melahirkan konsep-konsep, seperti dinamika tingkah laku, pola tingkah laku, model tingkah laku, dan perkembangan tingkah laku, dalam rangka mengurai kompleksitas tingkah laku manusia. Ahli-ahli psikologi kepribadian melakukan riset yang cermat untuk menguji konsep-konsep itu, memakai kaidah-kaidah ilmiah agar memperoleh teori yang handal, yakni teori yang dapat mengemban fungsi deskriptif dan prediktif dalam kerangka pendekatan psikologik.
Teori psikologi kepribadian bersifat deskriptif dalam rangka menggambarkan organisasi perilaku secara sistematis dan mudah dipahami. Tidak satupun tingkah laku terjadi begitu saja tanpa alasan, pasti ada faktor-faktor antiseden, sebab musabab, pendorong, motivator, saran, tujuan, dan latar belakangnya. Faktor-faktor tersebut harus ditempatkan pada suatu kerangka saling berhubungan yang bermakna, agar mendapat tinjauan analitik dan cermat ketika dilakukan pemerian tingkah laku dan agar perian dilakukan memakai sistematika yang ajeg dan komunikatif. Sifat prediktif teori kepribadian pada sisi lain justru mendapat bukti bahwa konsep-konsepnya teruji kebenarannya. Sekalipun tidak ada prediksi yang benar seratus persen, tetapi psikologi kepribadian dapat membantu proses pengambilan keputusan. Nilai prediktif dapat menjadi handal bila secara terus menerus dilakukan riset dalam psikologi kepribadian.
Kepribadian adalah domain kajian psikologi; pemahaman tingkah laku—pikiran, perasaan, dan tindakan manusia, memakai sitemik, metode, dan disiplin ilmu yang lain, seperti biologi, sejarah, ekonomi. Teori psikologi kepribadian mempelajari individu secara spesifik, yakni siapa dia, apa yang dimilikinya, dan apa yang dikerjakannya.
Kepribadian merupakan bagian jiwa yang membangun keberadaan manusia menjadi suatu kesatuan (totalitas), tidak terpisah-pisah fungsinya. Memahami kepribadian berarti memahami aku, diri, self atau memahami manusia seutuhnya. Berkaitan dengan memahami kepribadian berarti pemahaman dipengaruhi oleh paradigma yang digunakan untuk mengembangkan teori itu sendiri. Para pakar kepribadian meyakini bahwa paradigma yang berbeda-beda mempengaruhi secara sistemik seluruh pola pemikirannya tentang kepribadian manusia. Paradigma yang berbeda yang dikembangkan oleh para ahli akan menghasilkan teori yang berbeda, tidak saling berhubungan bahkan saling berlawanan. Teori-teori kepribadian dikelompokan berdasarkan paradigma yang digunakan untuk mengembangkannya. Ada emapt paradigma yang banyak digunakan sebagai acuan memahami kepribadian individu.

2.          Paradigma Psikoanalitik
Dua asumsi dasar bahwa manusia adalah bagian dari dunia binatang dan manusia adalah bagian dari sistem enerji. Asumsi ke dua dapat dipandang sebagai kelanjutan asumsi pertama, sebagai binantang manusia adalah organisme hidup yang membutuhkan enerji dan hidup berarti mampu mengelola enerji yang dimilikinya.
Kunci utama memahami manusia menurut paradigma Psikoanalitik adalah mengenali insting-insting seksual dan agresi—dorongan biologik yang membutuhkan kepuasan. Insting yang bersifat heriditer ini berkembang sejalan dengan pertumbuhan usia, dalam mana perkembangan biologik menyediakan bagian-bagian tubuh tertentu untuk menjadi pusat sensasi kepuasan. Sepanjang hidup seseorang akan menghadapi gangguan, mengalami konflik yang mengganggu pencapaian kepuasan. Semua penyebab ketidakpuasan merupakan metafora dari virus pengganggu yang harus dieliminasi, jika individu ingin memperoleh kembali hidup dalam kepuasan—hidup sehat.
Enerji psikis oleh manusia harus dimanfaatkan untuk sesuatu hal yang positif, untuk kemaslahatan diri. Manakala enerji psikis dipakai secara salah maka manusia tidak memperoleh kepuasan secara wajar, sehingga muncullah simpton-simpton neurotik. Psikoanalitik mencoba menjelaskan bagaimana membebaskan enerji yang digunakan oleh simpton neurotik, mengembalikan jalur enerji instingtif ke aktivitas yang dihekendaki.
Teori Psikoanalitik dikembangkan pertamakali oleh Sigmund Freud. Belakangan banyak pengikutnya yang mengembangkan teori psikologi kepribadiannya sendiri. Para pengikutnya di ataranya adalah: C.G.Yung, A. Adler, Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, H.S. Sullivan. Setiap teori memerikan wujud kepribadian, bagaimana struktur, dinamika, dan perkembangan elemen-elemen pendukungnya. Kebanyakan pakar Psikoanalitik berlatar profesi medik (Psikiater), maka mereka menempatkan diri sebagai terapis, teknik yang dipakai catharsis dan free association keduanya dipandang sebagai ”pil ajaib” untuk menyembuhkan penyakit psikis.


3.          Paradigma Trait
Paradigma Trait ini berbeda jauh dengan Psikoanalitik, berkembang menjadi Psikologi Eksperimen. Pakar Psikologi Eksperimen adalah Wilhelm Wundt. Psikologi Eksperimen memandang psikologi adalah ilmu yang mempelajari kesadaran. Wundt mencoba menemukan elemen dasar dari pengalaman, memakai teknik-teknik yang semula digunakan untuk eksperimen fisiologi dan pengindraan, dan teknik introspeksi. Menurutnya, untuk memahami tingkah laku harus diketahui terlebih dahulu unsur-unsur terkecil yang mendukung terjadinya tingkah laku di dalam diri manusia. Pendekatan ini yang pada awalnya berkembang dan dikenal sebagai Psikologi Strukturalisme yang pada akhirnya berkembang luas di awal sejarah psikologi
Pada perkembangan berikutnya strukturalisme dipandang tidak pragmatis dan metode introspeksi eksperimen terbukti kurang obyektif. Akhirnya muncul pemikiran baru yaitu bidang Psikologi Fungsionalisme, Psikologi Gestalt, dan Psikologi Behaviorime.
Tradisi Fungsionalisme menguraikan tentang habit, ingatan, berfikir, motivasi, dan fungsi jiwa yang lain. William James memandang bahwa manusia adalah kumpulan potensi-potensi dan kepribadian adalah aktualisasi potensi-potensi—bagaimana potensi digunakan dalam kehidupan. Pemahaman dan pengukuran besarnya potensi manusia menjadi domain kajian tradisi Psikologi Pengukuran. Tes psikologi mengukur aktualisasi suatu potensi kemudian menyimpulkan bagian dari potensi yang sudah difungsikan walaupun bagian yang masih laten. Metode kuesioner untuk mempelajari perbedaan individu yang dikembangkan oleh psikologi pengukuran yang tidak terpisahkan dengan psikologi kepribadian.
Teori Trait dipelopori oleh William James, Murray, Abraham Maslow, R.Cattel, Eysenck, Allport, dan yang lainnya. Muara teori kepribadian adalah pengenalan terhadap model-model fungsi kepribadian dalam kehidupan. Cattel dan Eysenck memakai analisis faktor untuk menemukan faktor yang saling asing dan Murray memakai pendekatan eklektik-interdisiplin dari metoda observasi-interview-kuesioner-proyektif-eksperimen untuk menemukan jenis-jenis need. Kepribadian diamati dalam kaitannnya dengan fungsinya terhadap lingkungan. Paradigma Trait lebih banyak membahas prediksi-prediksi tingkah laku. Nilai praktis dari psikologi kepribadian menjadi sangat tinggi di bidang pendidikan, industri, militer, dan lainnya, dalam arti memprediksikan keberhasilan individu dalam bidang tertentu, memilih atau menempatkan seorang yang tepat pada tempat yang tepat pula.

4.          Paradigma Kognitif
Gestalt adalah kesatuan, keseluruhan, pola konfigurasi. Pengalaman manusia selalu membentuk kesatuan yang memiliki pola dan konfigurasi tertentu. Max Wertheimer membangun teori Gestalt dari temuannya phy nomenon: ilusi bahwa mobil yang kita naiki sedang berhenti terasa bergerak ketika mobil di sebelah kita bergerak. Itu pertanda atau bukti bahwa pengalaman baru sesudah diterima indra tidak dipersepsi apa adanya, tetapi digabung lebih dahulu dengan pengalaman lama. Teori Gestalt berangkat dari asumsi dasar bahwa manusia sebagai pemeroses informasi.
Paradigma kognitif menggunakan kontekstualisme sebagai akar metafora. Konsep dasarnya adalah: keyakinan dan pikiran seseorang menjadi kunci memahami tingkah laku. Ingatan, pikiran, dan keyakinan ini mempunyai referensi khusus terhadap dunia. Persepsi adalah hasil kerja simultan antara dunia (stimulus) dengan pemerhati (kecenderungan untuk memproleh gestalt yang bagus).
Dunia pendidikan dan sekolah terbantu oleh teori Gestalt, yang secara intensif meneliti bagaimana pikiran, motivasi, perasaan, dan ingatan bekerja dalam kesatuan menangkap sensasi-sensasi baru, bagaimana seseorang mempelajari pengalaman baru.
Para pakar kepribadian meyakini paradigma kognitif seperti: Kurt Lewin, George Kelly, Carl Rogers, Mechael dan Bandura, cenderung akrab dengan filsafat humanisme. Carl Rogers berpendapat bahwa yang paling tahu tentang diri seseorang adalah diri orang itu sendiri. Setiap orang memiliki kemampuan untuk memilih yang terbaik bagi dirinya, dan jika terjadi kesalahan tingkah laku, hanya si penderita sendirilah yang dapat mengkoresinya. Proses itu dilakukan di tengah-tengah lingkungan yang berperan sebagai fasilitator, sumber informasi, dan penyedia alternatif. Teknik empathy dan unconditioning positive regard dikembangkan sebagai penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ketika membantu mengatasi tingkah laku yang tidak dikehendaki, penekanannya bukan sekadar mengatakan kepada orang itu bahwa ada masalah dengan pikirannya, tetapi paradigma kognitif berusaha mengungkapkan bahwa cara pandang seseorang mencerminkan bagaimana dunia itu bergerak dan cara bagaimana otaknya bekerja. Tetapi kognitif berusaha mendorong orang untuk mengubah keberadaannya di dunianya; mendorong orang untuk berpikir yang baik tentang dirinya sendiri, di samping mendorong orang untuk memilih lingkungan yang tepat dengan dirinya.

5.          Paradigma Behaviorisme
Kondisioning meyakini bahwa manusia adalah mesin. Tingkah laku manusia itu fungsi stimulus, artinya, diterminan tingkah laku tidak berada di dalam diri manusia tetapi berada di lingkungan. Metafora mekanis semacam itu mungkin dapat dimasukkan ke dalam semua paradigma, walaupun yang paling cocok adalah masuk ke dalam psikologi eksperimen, khususnya behaviorisme. Pendekatan Psikoanalitik bersifat mekanistik karena memandang tingkah laku manusia fungsi dari pengalaman masa lalu. Artinya tingkah laku orang dewasa sekarang bukan ditentukan oleh sistuasi—dorongan—pertimbangan rasional sekarang, tetapi ditentukan oleh pengalaman masa kecil di bawah 5 tahun. Pendekatan Trait dan Kognitif juga memakai jargon sebab-akibat, yang berarti merefleksikan model berpikir mekanisme.
Teori Behaviorisme lebih dekat dengan teori belajar. Pakar behaviorisme berusaha menjelaskan bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan dan bagaimana tingkah laku dapat berubah sebagai dampak dari interaksi itu. Perubahan tingkah laku, apakah itu pengembangan tingkah laku yang lama atau perolehan tingkah laku baru, semuanya di sebut belajar. Teori belajar menjadi teori psikologi kepribadian ketika yang dipelajari tingkah laku yang kompleks, yang repertoirnya membutuhkan waktu cukup panjang.
Pavlov, Skinner, Watson dalam berbagai eksperimen mencoba menunjukkan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku. Semua tingkah laku termasuk tingkah laku yang tidak dikehendaki diperoleh melalui belajar, dan mengubah tingkah laku itu dilakukan juga dengan mempelajari tingkah laku baru sebagai pengganti. Faktor pendorong agar orang bersedia bertingkah laku mengikuti kemauan lingkungan, di sebut reinforcement. Modifikasi tingkah laku pada paradigma behaviorisme tidak lain dan tidak bukan adalah management reinforcement. Pada anak-anak dan orang dewasa yang kemampuan kecerdasan dan berpikirnya rendah, pengubahan tingkah laku dengan menajemen reinforcement menjadi pilihan yang lebih luas dipakai.

C.   Pengertian Kepribadian
Kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris personality. Kata Personality sendiri berasal dari bahasa latin pesona, yang berarti topeng yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan. Pada saat pertunjukan para aktor tidak menampilkan kepribadian yang sesungguhnya—menyembunyikan kepribadiaannya yang asli, dan menampilkan dirinya sesuai dari topeng yang digunakannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk menggambarkan (1) identitas diri, jati diri seseorang, seperti: “Saya seorang yang pandai bergaul dengan siapa saja”, atau “Saya seorang pendiam”, (2) kesan seseorang tentang diri anda atau orang lain, seperti “Dia agresif”, atau “Dia jujur”, dan (3) fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah, seperti: “Dia baik”, atau “Dia pendendam”. Beberapa istilah dalam teori psikologi kepribadian diberi makna yabg berbeda-beda. Istilah yang berdekatan maknanya antara lain:
1.    Personality (kepribadian): penggambaran tingkah laku secara deskriptif tanpa memberi nilai (devaluative).
2.    Character (karakter): penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
3.    Dispotition (watak): karakter yang telah lama dimiliki dan sampai sekarang belum berubah
4.  Temperamen (temperamen): kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologik atau fisiologik, disposisi hereditas.
5. Traits (sifat): respon yang senada (sama) terhadap sekelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
6.    Type–attribute (ciri): mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
7.    Habit: kebiasaan respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.
Untuk memperoleh pemahaman tentang kepribadian, berikut dikemukakan beberapa pengertian dari para ahli.
1. Hall dan Lindzey mengemukakan bahwa secara populer, kepribadian dapat diartikan sebagai (1) keterampilan atau kecakapan sosial (social skill), dan (2) kesan yang paling menonjol, yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap orang lain (seperti orang yang dikesani sebagai agresif, atau pendiam).
2.   Woodworth mengemukakan bahwa kepribadian merupakan “kualitas tingkah laku total individu”.
3.   Stern mengemukakan bahwa kepribadian adalah kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai tujuan, kemampuannya bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh pengalaman.
4.   Guilford mengemukakan bahwa kepribadian adalah pola trait-trait yang unik dari seseorang.
5.   Pervin mengemukakan kepribadian adalah seluruh karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang mengakibatkan pola yang menetap dalam merespon suatu situasi.
6.   Maddy atau Burt mengemukakan bahwa kepribadian adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil yang menentukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berpikir, perasaan, dan perbuatan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat difahami secara sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologik saat itu.
7.    Dashiell mengartikannya sebagai “gambaran total tentang tingkah laku individu yang terorganisasi”
8.    Allport mengemukakan lima tipe definisi kepribadian sebagai berikut:
a.  Rag-Bag (omnibus), yang merumuskan kepribadiannya dengan cara enumeasi (menjumlahkan). Contohnya definisi dari Morton Prince, yaitu “kepribadian merupakan sejumlah disposisi biologis, impuls-impuls, kecenderungan-kecenderungan, dan instink-instink bawaan, dan disposisi lain yang diperoleh melalui pengalaman.
b. Integratif dan Konfiguratif, yang menekankan kepada organisasi cir-ciri pribadi, seperti definisi dari Warren dan Carmichaeles “kepribadian sebagai organisasi tentang pribadi manusia atau individu pada setiap tahap perkembangan”.
c.  Hirarchis, seperti yang dikemukakan oleh Wlliam James, yaitu kepribadian itu dinyatakan dalam empat pribadi (selves): material self, social self, spiritual self, dan puriego atau self of self.
d. Adjustment, seperti definisi dan kempfis, yaitu sebagai “integrasi dari sistem kebiasaan individu dalam menyesuaikan dirinya dalam lingkungannya”
e.   Distinctiveness (Uniqueness), seperti yang dikemukakan oleh Shoen, yaitu “sistem disposisi dan kebiasaan yang membedakan antara individu yang satu dengan yang lainnya dalam satu kelompok yang sama.
Selanjutnya Allport mengemukakan pendapatnya sendiri tentang pengertian kepribadian ini, yaitu “Personality is the dinamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustment to his environtment”. Maksudnya adalah “kepribadian merupakan organisasi yang dinamis dalam individu tentang sistem psikofisik yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya”.
Pengertian tersebut dapat diartikan sebagai berikut.

1.  Dynamic, merujuk kepada perubahan kualitas perilaku (karakteristik) individu, dari waktu ke waktu, atau dari situasi ke situasi.

2. Organization, yang menekankan pemolaan bagian-bagian struktur kepribadian yang independen, yang masing-masing bagian tersebut mempunyai hubungan khusus satu sama lainnya. Ini menunjukkan bahwa kepribadian itu bukan kumpulan sifat-sifat, dalam arti satu sifat ditambah dengan yang lainnya, melainkan keterkaitan antara sifat-sifat tersebut, yang satu sama lainnya saling berhubungan atau berinterelasi.

3. Psychophysical Systems, yang terdiri atas kebiasaan, sikap, emosi, motif, keyakinan, yang kesemuanya merupakan aspek psikis, tetapi mempunyai dasar fisik dalam diri individu, seperti: syaraf, kelenjar, atau tubuh individu secara keseluruhan. Sistem psikofisik ini meskipun mempunyai fondasi pembawaan, namun dalam perkembangannya lebih dipengaruhi oleh hasil belajar, atau diperoleh melalui pengalaman.

4. Determine, yang menunjuk pada peranan motivasional sistem psikofisik. Dalam diri individu, sistem ini mendasari kegiatan-kegiatan yang khas, yang mempengaruhi bentuk-bentuk. Sikap, keyakinan, kebiasaan, atau elemen-elemen sistem psikofisik lainnya muncul melalui sistem stimulus, baik dari lingkungan, maupun dari dalam diri individu sendiri.

5. Unique, yang menunjuk pada keunikan atau keragaman tingkah laku individu sebagai ekspresi dari pola sistem psikofisiknya. Dalam proses penyesuaian diri terhadap lingkungan, tidak ada reaksi atau respon yang sama dari dua orang, meskipun kembar identik.
Berdasarkan pengerian teori dan kepribadian di atas maka, istilah teori kepribadian dapat diartikan sebagai “Seperangkat asumsi tentang kualitas tingkah laku manusia beserta definisi-definisi empirisnya.
Mengenai asumsi ini dapat diberikan contohnya sebagai berikut:
1.         Semua tingkahlaku dilatarbelakangi motivasi
2.         Kecemasan yang tinggi menyebabkan penurunan mutu kegiatan bekerja atau belajar
3.         Perkembangan (psikofisik) individu dipengaruhi oleh pembawaan, lingkungan, dan kematangan. Asumsi ini sering dinyatakan dalam formula
4.         P (I)= F (H.E.T/M), dimana P= Person, I= Individu, F= Function, H= Heredity (pembawaan/keturunan), E= Environment (lingkungan), T= Time, dan M= Maturation (kematangan).
Menurut Pervin teori kepribadian itu merupakan upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan “what, how, dan why”. Pertanyaan “what” terkait dengan karakteristik seseorang dan bagaimana karakteristik tersebut diorganisasikan dalam hubungannya dengan orang lain. Seperti pertanyaan “Apakah dia jujur, ajeg, dan memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi?” Pertanyaan “how” merujuk kepada fakto-faktor yang mempengaruhi kepribadian, seperti “Bagaimana faktor genetika dan lingkungan berinteraksi dalam mempengaruhi kepribadian?” Sementara pertanyaan “why” merujuk kepada faktor motivasional individu berperilaku, seperti pertanyaan “Mengapa seseorang mengalami depresi?” Jawabannya mungkin, karena dia dihina orang, kehilangan orang yang dikasihinya, atau karena dia tidak lulus ujian.
Selanjutnya ia mengemukakan hakikat kepribadian manusia, yaitu sebagai berikut :

1. Manusia merupakan makhluk yang unik dibandingkan dengan makhluk (species) lainnya, seperti hewan. Dibandingkan dengan hewan, manusia lebih tergantung kepada faktor psikologis, ia kurang tergantung kepada faktor biologis. Manusia mempunyai kemampuan berfikir konseptual, dan berbahasa atau berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol, sedangkan hewan tidak memilikinya. Dengan kata lain yang membedakan manusia dan hewan adalah kemampuan berbahasa. Namun dalam hal kematangan, manusia lebih lambat dibandingkan dengan hewan.

2. Tingkah laku manusia bersifat kompleks. Untuk memahami kepribadian harus mampu mengapresiasi tentang kompleksitas tingkah laku manusia. Seringkali terjadi satu perilaku muncul disebabkan oleh beberapa faktor, seperti masalah “depresi” yang telah dikemukakan di atas. Satu perilaku yang sama pada beberapa orang, mungkin disebabkan oleh beberapa faktor yang berbeda-beda, seperti: Surini mengalami stress, karena dia takut tidak lulus ujian; sementara Budi mengalami stress, karena di PHK (diputus hubungan kerja) oleh kantornya.

3. Manusia tidak selalu menyadari atau dapat mengontrol faktor-faktor yang menentukan tingkah lakunya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam suatu saat manusia tidak dapat menjelaskan mengapa melakukan sesuatu, atau akan melakukan sesuatu dengan suatu cara yang sebenarnya berlawanan dengan keinginannya sendiri.

D.   Pola Kepribadian

Elizabeth B. Hurlock (1978) mengemukakan bahwa pola kepribadian merupakan suatu penyatuan struktur yang multidimensi yang terdiri atas “self-concept” sebagai inti atau pusat gravitasi kepribadian dan “traits” sebagai struktur yang mengintegrasikan kecenderungan pola-pola respon. Setiap pola itu dibahas dalam paparan berikut.

1.    Self-concept (Concept of self )
Self-concept ini dapat diartikan sebagai (a) persepsi, keyakinan, perasaan, atau sikap seseorang tentang dirinya sendiri; (b) kualitas penyikapan individu tentang dirinya sendiri; dan (c) suatu sistem pemaknaan individu tentang dirinya sendiri dan pandangan orang lain tentang dirinya.
Self-concept ini memiliki tiga komponen, yaitu: (a) perceptual atau physical self-concept, citra seseotang tentang penampilan dirinya (kemenarikan tubuh atau bodinya), seperti: kecantikan, keindahan, atau kemolekan tubuhnya; (b) conceptual atau psychological self-concept, konsep seseorang tentang kemampuan (keunggulan) dan ketidakmampuan (kelemahan) dirinya, dan masa depannya, serta meliputi kualitas penyesuaian hidupnya: honesty, self-confidence, independence, dan courage; dan (c) attitudinal, yang menyangkut perasaan seseorang tentang dirinya, sikapnya terhadap keberadaan dirinya sekarang dan masa depannya, sikapnya terhadap keberhargaan, kebanggaan, dan kepenghinaannya. Apabila seseorang sudah masuk masa dewasa, komponen ketiga ini juga terkait dengan aspek-aspek: keyakinan, nilai-nilai, idealita, aspirasi, dan komitmen terhadap way of life hidupnya.
Dilihat dari jenisnya, self-concept ini terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.:

a. The Basic Self-concept. Jane menyebutnya “real-self”, yaitu konsep seseorang tentang dirinya sebagaimana adanya. Jenis ini meliputi : persepsi seseorang tentang penampilan dirinya, kemampuan dan ketidakmampuannya, peranan dan status dalam kehidupannya, dan nilai-nilai, keyakinan, serta aspirasinya.

b.  The Transitory Self-concept. Ini artinya bahwa seseorang memiliki “self-concept” yang pada suatu saat dia, memegangnya, tetapi pada saat lain dia melepaskannya. “self-concept” ini mungkin menyenangkan tapi juga tidak menyenangkan. Kondisinya sangat situasional, sangat dipengaruhi oleh suasana perasaan (emosi), atau pengalaman yang lalu.

c.  The Social Self-concept. Jenis ini berkembang berdasarkan cara individu mempercayai orang lain yang mempersepsi dirinya, baik melalui perkataan maupun tindakan. Jenis ini sering juga dikatakan sebagai “mirror image”. Contoh: jika kepada seorang anak dikatakan secara terus-menerus bahwa dirinya “naughty” (nakal), maka dia akan mengembangkan konsep dirinya sebagai anak yang nakal. Perkembangan konsep diri sosial seseorang dipengaruhi oleh jenis kelompok sosial dimana dia hidup, baik keluarga, sekolah, teman sebaya, atau masyarakat. Jersild mengatakan bahwa apabila seorang anak diterima, dicintai, dan dihargai oleh orang-orang yang berarti baginya (yang pertama orang tuanya, kemudian guru, dan teman) maka anak akan dapat mengembangkan sikap untuk menerima dan menghargai dirinya sendiri. Namun apabila orang-orang yang berarti (signifant others) itu menghina, menyalahkan, dan menolaknya, maka anak akan mengembangkan sikap-sikap yang tidak menyenangkan bagi dirinya sendiri.

d. The Ideal Self-concept. Konsep diri ideal merupakan persepsi seseorang tentang apa yang diinginkan mengenai dirinya, atau keyakinan tentang apa yang seharusnya mengenai dirinya. Konsep diri ideal ini terkait dengan citra fisik maupun psikhis. Pada masa anak terdapat diskrepansi yang cukup renggang antara konsep diri ideal dengan konsep diri yang lainnya. Namun diskrepansi itu dapat berkurang seiring dengan berkembangnya usia anak (terutama apabila seseorang sudah masuk usia dewasa).

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.

Boeree, C.G. 2006. Personality Theories.Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Terjemahan oleh Inyik Rindwan Muzir. Yogyakarta: Prismasophie

Hurlock, E.B. 1987. Personality Development. New Delhi: McGraw-Hill Publishing Company.

Schneiders. A.A. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New York: Winston.

Suryabrata, S. 2003. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.

Wenzler, G dan Cremer. 1993. Proses Pengembangan Diri: Permainan dan Latihan Dinamika Kelompok. Jakarta: Grasindo.

Yusuf, Sy. 2002. Pengantar Teori Kepribadian. Bandung: Jurusan PPB FIP UPI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar