Ketika perusahaan raksasa Mitsubishi mengalami goncangan finansial, pihak manajemen mengajak karyawannya melakukan pembiasaan memuja dewa Matahari dan sang Kaisar dengan menghadap ke timur setiap kali akan memulai pekerjaan. Imbasnya luar biasa, kinerja meninggi, mutu produksi semakin kuat, yang akhirnya berefek pada pemulihan finansial perusahaan. (dari buku ISQ, Ari Ginanjar).
Beberapa tahun lalu ada seorang tokoh yang menyayangkan momen Jum'atan. Padahal, jika momen itu dimanage dengan maksimal akan menghasilkan kekuatan yang ampuh bagi kehidupan ummat Islam.
Dua gambaran kuat dari kebermaknaaan sebuah pembiasaan. Menyiratkan hikmah jika adakalanya kita harus memaksimalkan momen-momen penting dengan sebuah pembiasaan yang berhikmah, yang bernilai, yang mengandung moralitas yang baik.
Adalah siswa, fakta sosial yang selalu unik dibicarakan. Korelasi perkembangan tehnologi, budaya dan gaya hidup, sampai pada menejemen hati, telah menyisakan banyak kekhawatiran di tengah masyarakat. Hebatnya potensi yang dimiliki tidak jarang harus lenyap gara-gara kesalahan seluruh elemen bangsa dalam melayani mereka. Tidak saja orang tua dan lingkungan, yoni kekuatan sekolah, guru, dan pendidikan pun ikut andil menyumbangkan salah ketika terjadi dekadensi moral siswa.
Jika berkaca dari dua ilustrasi di atas, sebenarnya banyak alternatif yang bisa dilakukan sekolah, utamanya guru, untuk urun rembug menempa pondasi moral para siswa. Teramat salah jika beban sekolah hanya untuk menenuhi target kurikulum. Kurikulum yang tertulis memang konsep nyata untuk melegalkan setiap langkah pembelajaran. Tetapi tidak kalah pentingnya adalah menuntaskan kurikukum yang tersembunyi (hidden curyculum) untuk terserap tuntas bagi siswa.
Nilai moral, nilai agama, falsafah hidup, karakter bangsa, budaya, dan konsep-konsep yang inspiratif adalah cakupan hidden curyculum ini. Dan tidak jarang guru mengabaikannya dengan alasan alokasi waktu tidak memungkinkan.
Bisa dimaklumi, namun andai setiap guru di setiap pertemuan dengan siswa di kelas berkenan meluangkan sedikit waktu membiasakan penanaman nilai-nilai ini, betapa dahsyatnya hasil yang diperoleh.
Dalam ulasan, baik pakar psikologi maupun pakar pendidikan, mengatakan bahwa, moralitas, religi, norma, dan hal-hal yang inspiratif mempercepat seseorang ke zero mind (zona alpha). Sebuah kondisi berfikir yang menyenangkan, gairah, dan siap untuk diisi pemahaman dan pengetahuan. Sangat mustahil jika seorang guru tidak menahami hal ini. Maka menjadi ironi jika masih ada guru yang mengajak siswa belajar tanpa mengajak siswa itu ke hal-hal yang membuat mereka merasa senang, berhikmah, dan imajinatif inspiratif. Memaksa siswa langsung ke materi lebih banyak mengundang rasa sebal di sebagian siswa. Ujungnya adalah kelesuan motivasi siswa untuk memahami materi. Maka, terjadilah dua kegagalan. Satu gagal memahamkan materi sesuai muatan kurikulum, pun gagal pila menanamkan hal-hal yang berhikmah.
Hampir delapan belas tahun ini menjadi kebiasaan saya memulai pembelajaran dengan menelaah peristiwa-peristiwa kekinian yang dikorelasikan dengan kearifan lokal, dengan nilai-nilai, dengan hal-hal yang berhikmah menurut negara dan agama.
Mengajak siswa merenungi turunnya nilai tukar rupiah, berhikmah pada fenomena kabut asap, sampai pada peristiwa-peristiwa sekelas kampung bisa menjadi proses penanaman nilai-nilai pada siswa. Akan terjadi dua capaian kala kita mau mengawali pembelajaran dengan meluangkan waktu lima menit untuk mengkaji sebuah fenomena agar berhikmah dan inspiratif bagi siswa.
Tidak ada niatan untuk menampakkan ke khalayak jika selama ini saya selalu mengajak siswa beribrah dan berhiknah dulu. Inti saya mengajak mereka untuk ke zero mind ini lebih kepada target saya agar dalam pembelajaran itu saya tidak disulitkan karena ketidaksiapan siswa menerima materi pembelajaran dari saya.
Lebih dari itu, guru pun perlu perbaikan. Maka besar kemungkinan jika pembiasaan mengkaji fenomena untuk diambil hikmahnya, akan mampu mempercepat proses perbaikan diri sendiri. Puncaknya adalah adanya percepatan proses perbaikan di wilayah proses pebdidikan itu sendiri.
Saya sangat yakin, sebagian besar guru telah membiasakan meluangkan waktu lima menit awalnya di depan kelas dengan membaca, mengkaji, menelaah, berhikmah dan merenung dalam koridor cinta, norma, dan ruh agama bersama siswanya. Alangkah dahsyatnya jika semua guru setiap mengawali prises belajar berani dan mulai memulai untuk menzeromindkan suasana berpikir siswa dari hasutan, informasi, pola pikir, dan beban duga oleh sebab efek apapun. Niscaya gundah yang berkelindan pada diri siswa tersapa hal-hal yang benar dan menyejukkan.
Niscaya, dalam hidup kita dan siswa akan ada keseimbangan dan kejernihan. Yah, lima nenit saja kita luangkan bersama siswa untuk berbicara tentang cinta, tentang nilai-nilai, tentang norma budaya, pun tentang teduhnya ruh agama.
Yang saya rasakan selama ini, siswa tidak jarang menunggu kehadiran saya di kelas dengan tanda tanya, "Fenomena apa yang sedang pak Fauzi bawa hari ini untuk di kaji.... ".
Salam pendidikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar