Selasa, 29 September 2015
Seputar UKG dan TPP 2015__ Dispendik Kab. Gresik
Informasi Kriteria Peserta UKG, Verifikasi Data Peserta UKG dan Evaluasi Kelayakan Penerima TPP Triwulan III Tahun 2015 >>>> Link Informasi : Arifshefa.wodpress.com
Pengembangan Kepribadian (Bag. 2)
2. Traits (Sifat-sifat)
Traits ini berfungsi untuk mengintegrasikan
kebiasaan, sikap, dan keterampilan kepada pola-pola berpikir, merasa, dan
bertindak. Sementara konsep diri berfungsi untuk mengintegrasikan
kapasitas-kapasitas psikologis dan prakarsa-prakarsa kegiatan.
Traits dapat diartikan sebagai aspek atau dimensi
kepribadian yang terkait dengan karakteristik respon atau reaksi seseorang yang
relatif konsisten (ajeg) dalam rangka menyesuaikan dirinya secara khas. Dapat
diartikan juga sebagai kecenderungan yang dipelajari untuk mereaksi rangsangan
dari lingkungan.
Deskripsi dan definisi traits di atas
menggambarkan bahwa traits merupakan kecenderungan-kecenderungan yang
dipelajari untuk (a) mengevaluasi situasi dan (b) mereaksi situasi dengan
cara-cara tertentu.
Setiap traits mempunyai tiga
karakteristik: (a) Uniqueness, kekhasan dalam berperilaku, (b) likeableness,
yaitu bahwa trait itu ada yang disenangi (liked) dan ada yang tidak
disenangi (disliked), sebab traits itu berkontribusi kepada keharmonisan
atau ketidakharmonisan, kepuasan atau ketidakpuasan orang yang mempunyai traits tersebut. Traits yang disenangi
seperti: jujur, murah hati, sabar, kasih sayang, peduli, dan bertanggung jawab.
Sedangkan yang tidak disenangi seperti: egois, tidak sopan, ceroboh, pendendam,
dan kejam/bengis. Sikap seseorang terhadap traits ini merupakan hasil belajar
dari lingkungan sosialnya; dan (c) consistency, artinya bahwa seseorang
itu diharapkan dapat berperilaku atau bertindak secara ajeg.
Sama halnya dengan “self-concept”, “traits”
pun dalam perkem-bangannya dipengaruhi oleh faktor hereditas dan belajar.
Faktor yang paling mempengaruhi adalah (a) pola asuh orang tua, dan (b) imitasi
anak terhadap orang yang menjadi idolanya. Beberapa trait dipelajari
secara “trial dan error”, artinya belajar anak lebih bersifat kebetulan,
seperti perilaku agresif dalam mereaksi frustasi. Contohnya: anak menangis
sambil membanting pintu kamarnya, gara-gara tidak dibelikan mainan yang
diinginkannya. Apabila dengan perbuatan agresifnya itu, orang tua akhirnya
membelikan mainan yang diinginkan anak, maka anak cenderung akan mengulangi
perbuatan tersebut. Demikian terjadi pada orang dewasa bersikap kurang percaya
kepada orang lain sehingga menunjukkan perilaku suka protes seperti “unjuk
rasa” sambil berperilaku brutal terhadap ketidakpuasan manajerial perusahaan
atau menuntut kenaikan gaju kepada perusahaan. Para pengunjuk rasa melakukan
aksi protes dengan cara brutal tersebut apabila pada akhirnya dipenuhi oleh
perusahaan maka cara-cara protes demikian akan diulang-ulang untuk
mengintimidasi para pengambil kebijakan.
Anak juga belajar (memahami) bahwa traits atau sifat-sifat dasar tertentu
sangat dihargai (dijunjung tinggi) oleh semua kelompok budaya secara universal,
seperti: kejujuran, respek terhadap hak-hak orang lain, disiplin,
tanggungjawab, dan sikap apresiatif.
Meskipun kepribadian seseorang itu relatif
konstan, namun dalam kenyataan sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian itu
dapat dan mungkin terjadi. Perubahan itu terjadi dipengaruhi oleh faktor
gangguan fisik dan lingkungan.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
perubahan kepribadian di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Faktor
Fisik, seperti: gangguan otak, kurang gizi (malnutrisi) mengkonsumsi obat-obat
terlarang (NAPZA atau NARKOBA), minuman keras, dan gangguan organik (sakit atau
kecelakaan).
b. Faktor
Lingkungan Sosial Budaya, seperti: krisis politik, ekonomi, moral, dan
keamanan dapat menyebabkan terjadinya masalah pribadi (stress, depresi) dan
masalah sosial (pengangguran, premanisme, dan kriminalitas).
c. Faktor
Diri Sendiri, seperti: tekanan emosional (frustasi yang berkepanjangan),
dan identifikasi atau imitasi tehadap orang lain yang berkepribadian
menyimpang.
Secara garis besar faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian, yaitu
hereditas (genetika) dan lingkungan (environment).
1.
Faktor Genetika (Pembawaan)
Perpaduan bawaan ayah dan ibu baik fisik maupun
psikis akan menentukan potensi-potensi hereditas anak. Beberapa riset tentang
perkembangan pranatal (sebelum kelahiran atau masa dalam kandungan) menunjukkan
bahwa kemampuan menyesuaikan diri terhadap kehidupan setelah kelahiran (post
natal) bersumber pada saat konsepsi.
Pada saat dalam kandungan dipandang sebagai masa
(periode) kritis perkembangan kepribadian, sebab bukan saja sebagai masa
pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagai masa pembentukan
kemampuan-kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap
kehidupan setelah kelahiran.
Pengaruh pewarisan orang tua terhadap
kepribadian, sebenarnya tidak secara langsung, karena yang dipengaruhi
genetikan secara langsung adalah (a) kualitas sistem syarat, (b) keseimbangan
biokimia tubuh, dan (c) struktur tubuh.
Lebih lanjut ditemukenali bahwa fungsi hereditas
kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah: (a) sebagai sumber bahan
mentah (raw materials) kepribadian
seperti: fisik, inteligensi, dan temperamen dan (b) membatasi kondisi
lingkungannya sangat kondusif, perkembangan kepribadian (sekalipun perkembangan
kepribadian itu tidak dapat melebihi kapasitas atau potensi heredita) dan
mempengaruhi keunikan kepribadian.
Sebagaimana dikemukakan oleh Cattel, dkk. bahwa
kemampuan belajar dan penyesuaian diri individu dibatasi oleh sifat-sifat yang
inheren dalam organisme individu itu sendiri. Misalnya fisik (perawakan,
energi, kekuatan, dan kemenarikan) dan kapasitas intelektual (cerdas, normal,
atau terbelakang). Walaupun begitu, batas-batas perkembangan kepribadian,
bagaimanapun lebih besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Misalnya, seorang anak laki-laki yang tubuhnya
kurus, ia akan mengembangkan konsep diri yang kurang nyaman (negatif), bila ia
berkembang dalam lingkungan sosial yang sangat menghargai nilai-nilai
keberhasilan atletik dan merendahkan kesuksesan dalam bidang lain yang
diperolehnya. Demikian seorang anak perempuan yang wajahnya kurang menarik, ia
akan merasa rendah diri bila berada di lingkungan keluarga atau lingkungan
sosial yang sangat menghargai perempuan dari segi kecantikannya.
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa hereditas
mempengaruhi konsep diri individu sebagai dasar individualitasnya (keunikannya)
sehingga tidak ada dua orang yang mempunyai pola-pola kepribadian yang sama,
sekalipun kembar identik. Menurut C.S. Hall, dimensi-dimensi temperamen:
emosionalitas, aktivitas, agresivitas, dan reaktivitas bersumber dari gen
demikian halnya dengan inteligensi.
Berikut ini studi tetang pengaruh hereditas
terhadap kepribadian yang dilakuakan oleh Pervin (dalam Yusuf, 2002). Keragaman
konstitusi (postur) tubuh, bahwa karakteristik fisik berhubungan dengan
kepribadian. Hippocrates meyakini bahwa temperamen manusia dapt dijelaskan
berdasarkan cairan-cairan tubuhnya. Kretschemer mengklasifikasikan postur tubuh
individu pada tiga tipe utama,dan satu tipe campuran.
Tipe Piknis (stenis):
pendek, gemuk, perut besar, dada dan bahunya bulat. Tipe Asthenis (leptosom): tinggi dan ramping, perut
kecil, dan bahu sempit. Tipe Atletik: postur tubuhnya harmonis (tegap, bahu
lebar, perut kuat, otot kuat). Tipe Displastis: tipe penyimpangan dari ketiga
bentuk di atas
Tipe-tipe tersebut berkaitan dengan: (a) gangguan
mental, seperti tipe piknis berhubungan dengan manik depresif dan asthenis
dengan schizophrenia, dan (b) karakteristik individu yang normal seperti tipe
piknis mempunyai sifat-sifat: bersahabat dan tenang sedangkan asthenis bersifat
serius, tenang, dan senang menyendiri.
Sebagaimana Sheldon telah mengklasifikasikan
postur tubuh manusia adalah: endomorphy,
mesomorphy, dan ectomorphy. Klasifikasi
ini didasarkan pada hasil pengukuran terhadap aspek-aspek struktural individu
yang diambil dari 4000 foto pria telanjang dari posisi depan, belakang, dan
samping. Dalam mengembangkan skema untuk mengukur temperamen Sheldon menyusun
650 sifat-sifat menjadi 50 sifat dipilih sebagai dasar penilaian terhadap 33
orang pria yang diwawancarai secara intensif. Hasilnya ia mengkategorikan 3
temperamen, yaitu: viscerotonia,
somatotonia, dan cerebrotonia.
Tipologi temperamen oleh Sheldon:
|
SOMATOTIPE
|
TEMPERAMEN
|
SIFAT-SIFAT
|
|
1.
Endomorp= piknis
(pendek, gemuk)
|
viscerotonia
|
Tenang,
pandai bergaul, senang bercinta, gemar makan, tidur nyenyak
|
|
2.
Mesomorp= atletik
(tubuh harmonis)
|
somatotonia
|
Aktif,
asertif, kompetetif, teguh, dan agresif
|
|
3. Ectomorp= astenis
(tinggi,
kurus)
|
cerebrotonia
|
Introvert
(senang menyendiri), menahan diri, peragu, kurang berani bergaul dengan orang
banyak, (sociophobia), kurang berani berbicara di depan orang banyak
|
Tipologi temperamen oleh Galenius:
|
TEMPERAMEN
|
SIFAT-SIFAT
|
|
1. Sanguinis
|
a. Sifat dasar: periang, optimis, percaya diri
b. Sifat perasannya: mudah menyesuaikan diri,
tidak stabil, baik hati, tidak serius, kurang dapat dipercaya karena kurang
begitu konsekuen
|
|
2. Melankolis
|
a. Sifat dasar: pemurung, sedih, pesimistis,
kurang percaya diri
b. Sifat lainnya: merasa tertekan dengan masa
lalunya, sulit menyesuaikan diri, berhati-hati, konsekuen, dan suka menepati
janji
|
|
3. Koleris
|
a. Sifat dasar: selalu merasa kurang puas,
bereaksi negatif, dan agresif
b. Sifat lainnya: mudah tersinggung (emosional),
suka membuat provokasi, tidak mau mengalah, tidak sabaran, tidak toleran,
kurang memiliki rasa homor, cenderung beroposisi, dan banyak inisiatif
(usaha)
|
|
4. Plegmatis
|
a. Sifat dasar: pendiam, tenang, netral (tidak
ada aura perasaan), stabil
b. Sifat lainnya: merasa cukup puas, tidak
peduli (acuh tak acuh), dingin hati (tidak mudah haru), pasif, tidak
mempunyai banyak minat, bersifat lambat, sangat hemat, dan tertib/teratur
|
2.
Faktor Lingkungan (environment)
Faktor lingkungan mempengaruhi kepribadian adalah:
keluarga, kebudayaan, dan sekolah.
a.
Keluarga
Iklim
keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis yaitu yang dapat
memberikan curahan kasih sayang, perhatian, dan bimbingan dalam beragama, maka
perkembangan kepribadian anak cenderung positif, sehat (welladjusted). Sebaliknya anak yang dibawa pengasuhan lingkungan
keluarga broken home, kurang
harmonis, orangtua bersikap keras, kurang memperhatikan nilai-nilai agama, maka
perkembangan kepribadiannya cenderung mengalami distorsi atau mengalami
kelainan dalam menyesuaikan diri (maladjusted).
Dorothy Law Nolte (Hurlock, 1978: Yusuf, 2002),
menggambarkan pengaruh keluarga terhadap perkembangan kepribadian anak sebagai
berikut:
“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar
memaki”
“Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia
belajar berkelahi”
“Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar
rendah diri”
“Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia
belajar menyesali diri”
“Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia
belajar menahan diri”
“Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar
percaya diri”
“Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar
menghargai”
“Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik
perlakukan, ia belajar keadilan”
“Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar
menyenangi dirinya”
“Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia
belajar menemukan cinta”
Demikian Baldwin, dkk (Yusuf, 2002) mengemukakan
temuan penelitiannya bahwa anak yang dikembangkan dalam iklim pengasuhan demokratis,
maka ia cenderung memiliki kepribadian lebih aktif, lebih bersikap sosial,
lebih memiliki harga diri (percaya diri), lebih memiliki keinginan dalam bidang
intelektual, lebih orisinil, dan lebih konstruktif dibandingkan dengan anak
yang dibesarkan dalam iklim otoriter.
Schaefer (Yusuf, 2002) mengkombinasikan pola
tingkah laku ibu terhadap anak antara love
(cinta kasih sayang) atau hostility (permusuhan),
dan control atau autonomy.
b.
Kebudayaan
Kluckhohn berpendapat bahwa “kebudayaan
meregulasi kehidupan kita sejak lahir sampai mati, baik disadari maupun tidak
yang mempengaruhi kita untuk mengikuti pola-pola perilaku tertentu yang telah
dibuat orang lain untuk kita”.
Pola-pola perilaku yang sudah terkembangkan dalam
masyarakat (bangsa) tertentu (seperti bentuk adat istiadat) sangat memungkinkan
mereka untuk memiliki karakteristik kepribadian tertentu yang sama. Kesamaan
karakteristik ini mendorong berkembangnya konsep kepribadian dasar (Kardiner: Yusuf,
2002) dan karakter nasional atau bangsa (Gorer: Yusuf, 2002).
Berikut contoh tipe kepribadian suku Indiana Maya
dan Alorese. Suku Indiana memiliki karakteristik: rajin, kurang peka terhadap
penderitaan, fatalistik, tidak takut mati, independen namun tidak kompetitif,
tidak demonstratif dalam mengekspresikan perasaan, dan jujur. Sementara suku
Alorese berkarakteristik: cemas, curiga, kurang percaya diri, kurang berminat
ke dunia luar, sangat membutuhkan dorongan kasih sayang, kurang memiliki
dorongan untuk mengembangkan keterampilan, dan suka mengkompensasi perasaan
rendah dirinya dengan membuat dan membangga-banggakan diri.
Setiap bangsa di dunia memiliki kepribadian dasar
yang relatif berbeda, sebagaimana bangsa Indonesia memiliki kepribadian dasar: religius,
ramah, kurang disiplin, bangsa Jepang: ulet, kreatif, dan disiplin; dan bangsa
Amerika: optimis, perspektif, disiplin, ulet dalam menyelesaikan sesuatu, namun
individualistik.
Pentingnya peranan kebudayaan terhadap
perkembangan kepribadian seseorang tergantung pada tiga prinsip di antaranya:
(a) pengalaman awal dalam kehidupan dalam keluarga, (b) pola asuh orangtua
terhadap anak, dan (c) pengalaman awal dalam kehidupan anak dalam masyarakat. Jika
anak-anak memiliki pengalaman awal kehidupan yang sama dalam suatu masyarakat
maka mereka cenderung akan memiliki karakteristik kepribadian yang sama pula.
c.
Sekolah
Lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kepribadian
anak. Faktor yang dipandang berpengaruh itu di antaranya adalah:
1)
Iklim emosional kelas
Suasana kelas yang sehat (guru yang ramah, respek
antar siswa) memberi dampak posif bagi perkembangan psikis anak, mereka menjadi
aman, nyaman, bahagia, mau bekerjasama, termotivasi untuk belajar, mau mentaati
peraturan. Sebaliknya kelas yang tidak sejuk (guru bersikap otoriter, tidak
menghargai siswa) berdampak kurang baik bagi perkembangan anak, mereka merasa
tegang, nervous, mudah marah, malas belajar, berperilaku mengganggu di kelas,
tidak tertib.
2)
Sikap dan perilaku guru
Sikap dan perilaku guru tercermin dalam
hubungannya dengan siswa (human
relationship). Hubungan guru-siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain: strerotip budaya terhadap guru (pribadi dan profesi), positif atau
negatif, sikap dan pola pembimbingan guru terhadap siswa, metode mengajar,
penegakan disiplin di kelas, dan penyesuaian pribadi guru. Sikap dan perilaku
guru secara langsung mempengaruhi “self-concept”
siswa, melalui sikap-sikapnya terhadap tugas akademik (kesungguhan dalam
mengajar), kedisiplinan dalam mentaati peraturan sekolah, dan perhatiannya
terhadap siswa. Secara tidak langsung, pengaruh guru ini terkait dengan
upayanya membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan penyesuaian sosialnya.
3)
Disiplin
Penegakan
tata tertib di lingkungan sekolah akan membentuk sikap dan tingkah laku siswa.
Disiplin yang kaku akan mengembangkan sifat-sifat pribadi siswa yang tegang,
nervous, dan antagonistik. Disiplin yang bebas, cenderung membentuk sifat siswa
yang kurang bertanggungjawab, kurang menghargai otoritas, dan egosentris. Sementara
disiplin yang demokratis, cenderung mengembangkan perasaan berharga, merasa
bahagia, perasaan tenang, dan sikap bekerjasama.
4)
Prestasi Belajar
Pencapaian
prestasi belajar atau peringkat kelas mempengaruhi peningkatan harga diri dan
sikap percaya diri siswa
5)
Penerimaan Teman Sebaya
Siswa
yang diterima oleh teman-temannya, ia akan mengembangkan sikap positif terhadap
dirinya, dan juga orang lain. Ia merasa menjadi orang yang berharga.
Salah satu kata kunci dan definisi kepribadian adalah
“penyesuaian (adjustment)”. Menurut Alexander A. Schneiders (1964), penyesuaian itu dapat diartikan sebagai “Suatu proses respon individu, baik yang
bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan
dari dalam diri, tegangan emosional, frustasi dan konflik; dan memelihara
keharmonisan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma)
lingkungan”.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan atau memecahkan
masalah yang dihadapi, ternyata tidak semua individu mampu menampilkannya
secara wajar, normal atau sehat (well adjustment); di antara mereka
banyak juga yang mengalaminya secara tidak sehat (maladjustment).
E.B. Hurlock (1987) mengemukakan bahwa
penyesuaian yang sehat atau kepribadian yang sehat (healty personality)
ditandai dengan karakteristik sebagai berikut.
1. Mampu menilai diri secara realistik. Individu yang
berkepribadian sehat mampu menilai dirinya sebagaimana apa adanya, baik
kelebihan maupun kekurangan atau kelemahannya, yang menyangkut fisik (postur
tubuh, wajah, keutuhan, dan kesehatan) dan kemampuan (kecerdasan, dan
keterampilan).
2. Mampu menilai situasi secara realistik. Individu dapat
menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan
mau menerimanya secara wajar. Dia tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu
sebagai suatu yang harus sempurna.
3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik.
Individu dapat menilai prestasinya (keberhasilan yang diperolehnya) secara
realistik dan mereaksinya secara rasional. Dia tidak menjadi sombong, angkuh
atau mengalami “ superiority complex”, apabila memperoleh prestasi yang
tinggi atau kesuksesan dalam hidupnya. Apabila mengalami kegagalan, dia tidak
mereaksinya dengan frustasi, tetapi dengan sikap optimistik (penuh harapan).
4. Menerima tanggung jawab. Individu yang sehat adalah
individu yang bertanggung jawab. Dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya
untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5. Kemandirian (autonomy). Individu memiliki sifat mandiri
dalam berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan
mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di
lingkungannya.
6. Dapat mengontrol emosi. Individu merasa nyaman dengan
emosinya. Dia dapat menghadapi situasi frustasi, depresi atau stress secara
positif atau konstruktif, tidak destruktif (merusak).
7. Berorientasi tujuan. Setiap orang memiliki tujuan yang
ingin dicapainya. Namun, dalam merumuskan tujuan itu ada yang realistik ada
yang tidak realistik. Individu yang sehat kepribadiannya dapat merumuskan
tujuannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar
paksaan dari luar. Dia berupaya untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara
mengembangkan kepribadian (wawasan, perilaku) dan keterampilan.
8. Berorientasi
keluar. Individu yang sehat memiliki orientasi keluar (ekstrovert).
Dia bersifat respek, empati terhadap orang lain mempunyai kepedulian terhadap
situasi, atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam
berpikirnya. Barret Leonard mengemukakan sifat-sifat individu yang berorientasi
keluar, yaitu (a) menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya sendiri;
(b) merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain; (c) tidak membiarkan dirinya
dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan tidak mengorbankan orang lain
karena kekecewaan dirinya.
9. Penerimaan sosial. Individu dinilai positif oleh orang
lain, mau berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, dan memiliki sikap
bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
10. Memiliki filsafat hidup. Dia mengarahkan hidupnya
berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari agama, keyakinan, way of life yang dianutnya.
11. Berbahagia. Individu yang sehat, situasi kehidupannya
diwarnai kebahagiaan. Kebahagiaan ini didukung oleh faktor-faktor achievment
(pencapaian prestasi), acceptance (penerimaan dari orang lain), dan affection
(perasaan dicintai atau disayangi orang lain).
Berikut ini karakteristik kepribadian yang tidak
sehat:
1.
Mudah marah (tersinggung), panik
2.
Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan berlebihan
3.
Sering merasa tertekan (stres dan dipresi)
4.
Bersikap kejam atau senang mengganggu orang
lain yang umurnya lebih muda atau terhadap binatang (sikap intimidasi)
5.
Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku
menyimpang sekalipun sudah diperingatkan atau dihukum
6.
Mempunyai kebiasaan berbohong, berdusta
7.
Hiperaktif
8.
Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
9.
Senang mengkritik/mencooh orang lain
10.
Sulit tidur
11.
Kurang memiliki rasa tanggungjawab
12.
Sering mengalami pusing kepala (meskipun
penyebabnya bukan bersifat fisiologis)
13.
Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati
ajaran agama
14.
Bersikap pesimis dalam menghadapi kehidupan
15.
Kurang bergairan dalam kehidupan (“loyo”)
Kelainan perilaku di atas berkembang bilamana
anak hidup dalam lingkungan yang tidak kondusif dalam perkembangannya. Misalnya,
lingkungan keluarga yang kurang berfungsi (disfunctional
family) bercirikan “broken home”,
hubungan antar anggota keluarga kurang harmonis, kurang menjunjung nilai-nilai
agama, orangtua bersikap keras atau kurang memberikan perhatian dengan kasih
sayang kepada putra-putrinya.
Berkembangnya kelainan kepribadian pada umumnya
disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang baik, maka upaya pencegahan
seyogyanya dilakukan oleh pihak keluarga, sekolah, dan pemerintah bekerja sama
untuk menciptakan iklim lingkungan yang memfasilitasi atau memberikan kemudahan
kepada anak untuk mengembangkan potensi atau tugas-tugas perkembangannya secara
optimal, baik menyangkut fisik, psikis, sosial, dan moral-spiritual.
Teori psikologi kepribadian sebagaimana di sebut
di atas aplikasinya dalam bidang organisasi, leadership, pendidikan, konseling
dan psikoterapi adalah:
1.
Psikologi
Organisasi
Seting organisasi di lingkungan industri dan
lingkungan sekolah, rumah sakit, militer dan olah raga. Psikologi kepribadian
berusaha untuk memperoleh keseimbangan antara keefektivan organisasi dengan
kepuasan anggotanya, membantu pemecahan problem anggota dan motivasi kelompok.
Pakar kepribadian banyak mengaplikasikan perspektif lingkungan yang menekankan
saling ketergantungan antara individu dengan organisasi. Aplikasi psikologi
organisasi di dunia persekolahan dibutuhkan kehadiran pemimpin yang berpotensi
mengayomi anggota, berperilaku jujur, kasih sayang kepada sesama, perhatian,
terbuka, disiplin, bertanggungjawab, kreatif, menantang terhadap peluang
perkembangan, dan sebagainya.
2.
Psikologi
Konseling
Senada dengan psikologi klinik, psikologi
konseling menangani gangguan tingkah laku yang ringan, penderita masih dapat
melakukan tugas sehari-hari dengan baik, bekerja dan atau berkomunikasi
layaknya orang normal. Konselor memberi bantuan kepada konseli memilih jurusan
dan karir masa depan, menangani hambatan penyesuaian dalam kaitannya dengan
belajar, sosial, pekerjaan, perkawinan, dan kondisi fisik.
3.
Psikologi
Pendidikan
Psikologi kepribadian membantu mengembangkan
kepribadian guru, mengenali kepribadian peserta didik dan memanfaatkannya untuk
mengoptimalkan prestasi pendidikan, melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap
kebutuhan sekolah dengan tuntutan masyarakat._____________(Bersambung)
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM
Press.
Boeree, C.G. 2006. Personality Theories.Melacak Kepribadian
Anda Bersama Psikolog Dunia. Terjemahan oleh Inyik Rindwan Muzir.
Yogyakarta: Prismasophie
Hurlock, E.B. 1987. Personality Development. New Delhi:
McGraw-Hill Publishing Company.
Schneiders. A.A. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New
York: Winston.
Suryabrata, S. 2003. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada Press.
Wenzler, G dan Cremer. 1993.
Proses Pengembangan Diri: Permainan dan
Latihan Dinamika Kelompok. Jakarta: Grasindo.
Yusuf, Sy. 2002. Pengantar Teori Kepribadian. Bandung:
Jurusan PPB FIP UPI.
Pengembangan Kepribadian (Bag. 1)
A. Latar Belakang
Reformasi pendidikan di tanah air terjadi sejak
ditetapkan ketentuan perundang-undangan. Diawali UU nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional dilengkapi dengan PP nomor 19 tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan, UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
PerMendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, PerMendiknas nomor 23
tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan, PerMendiknas nomor 24 tahun
2006 tentang Standar Proses, PerMendiknas nomor 18 tahun 2007 tentang
Sertifikasi Guru, serta PerMendiknas nomor 13 tentang Sertifikasi Kepala
Sekolah. Ketentuan perundang-undangan tersebut merupakan hajat publik untuk
menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
dan membentuk karakter warga masyarakat Indonesia yang bermartabat.
Standar Nasional Pendidikan menetapkan 8 standar,
yaitu: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4)
standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6)
standar pengelola, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian
pendidikan. Tenaga Kependidikan di tingkat satuan pendidikan terdiri atas:
Kepala TK/RA, Kepala SD/MI, Kepala SMP/MTs, Kepala SMA/MA, Kepala SMK/MAK,
Kepala SDLB/SMPLB, dan SMALB, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga
laboratorium, dan tenaga kebersihan.
Standar Kompetensi Kepala Sekolah meliputi (1)
kompetensi kepribadian, (2) kompetensi manajerial, (3) kompetensi supervisi,
dan (4) kompetensi sosial. Sub-Kompetensi kepribadian terdiri atas: (1)
memiliki integritas sebagai pemimpin, (2) memiliki keinginan yang kuat dalam
mengembangkan diri sebagai Kepala Sekolah, (3) bersikap terbuka dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsi, (4) mengendalikan diri dalam menghadapi
masalah sebagai Kepala Sekolah, dan (5) memiliki bakat dan minat jabatan
sebagai pemimpin pendidikan.
Dalam rangka meningkatkan mutu kinerja Kepala
Sekolah senantiasa diselenggarakan DIKLAT berbasis kompetensi. Untuk mendukung
kompetensi kepribadian Kepala Sekolah maka disiapkan bimbingan teknis Diklat
Pengembangan Kepribadian. Diklat Pengembangan Kepribadian disusun menjadi 4
bagian, yakni (1) Psikologi Kepribadian tinjauan Teori dan Praktek, (2)
Paradigma Psikologi Kepribadian: Psikoanalitik dan Trait, (3) Paradigma
Psikologi Kepribadian: Kognitif dan Behavioristik, dan (4) Instrumen
Pengembangan Diri.
B. Konsep
Psikologi Kepribadian
1.
Latar Psikologi Kepribadian
Ilmu Psikologi lahir pada akhir abad 18, salah
satu topik yang menarik untuk dikaji adalah kepribadian. Sebagai ilmu,
psikologi lahir, berusaha memahami manusia seutuhnya (totality), dapat dilakukan melalui pemahaman tentang kepribadian. Teori
Psikologi Kepribadian melahirkan konsep-konsep, seperti dinamika tingkah laku,
pola tingkah laku, model tingkah laku, dan perkembangan tingkah laku, dalam
rangka mengurai kompleksitas tingkah laku manusia. Ahli-ahli psikologi
kepribadian melakukan riset yang cermat untuk menguji konsep-konsep itu,
memakai kaidah-kaidah ilmiah agar memperoleh teori yang handal, yakni teori
yang dapat mengemban fungsi deskriptif dan prediktif dalam kerangka pendekatan
psikologik.
Teori psikologi kepribadian bersifat deskriptif
dalam rangka menggambarkan organisasi perilaku secara sistematis dan mudah
dipahami. Tidak satupun tingkah laku terjadi begitu saja tanpa alasan, pasti
ada faktor-faktor antiseden, sebab musabab, pendorong, motivator, saran,
tujuan, dan latar belakangnya. Faktor-faktor tersebut harus ditempatkan pada
suatu kerangka saling berhubungan yang bermakna, agar mendapat tinjauan
analitik dan cermat ketika dilakukan pemerian tingkah laku dan agar perian
dilakukan memakai sistematika yang ajeg dan komunikatif. Sifat prediktif teori
kepribadian pada sisi lain justru mendapat bukti bahwa konsep-konsepnya teruji
kebenarannya. Sekalipun tidak
ada prediksi yang benar seratus persen, tetapi psikologi kepribadian dapat
membantu proses pengambilan keputusan. Nilai prediktif dapat menjadi handal
bila secara terus menerus dilakukan riset dalam psikologi kepribadian.
Kepribadian adalah
domain kajian psikologi; pemahaman tingkah laku—pikiran, perasaan, dan tindakan
manusia, memakai sitemik, metode, dan disiplin ilmu yang lain, seperti biologi,
sejarah, ekonomi. Teori psikologi kepribadian mempelajari individu secara spesifik,
yakni siapa dia, apa yang dimilikinya, dan apa yang dikerjakannya.
Kepribadian
merupakan bagian jiwa yang membangun keberadaan manusia menjadi suatu kesatuan
(totalitas), tidak terpisah-pisah fungsinya. Memahami kepribadian berarti
memahami aku, diri, self atau
memahami manusia seutuhnya. Berkaitan dengan memahami kepribadian berarti
pemahaman dipengaruhi oleh paradigma yang digunakan untuk mengembangkan teori
itu sendiri. Para pakar kepribadian meyakini bahwa paradigma yang berbeda-beda
mempengaruhi secara sistemik seluruh pola pemikirannya tentang kepribadian
manusia. Paradigma yang berbeda yang dikembangkan oleh para ahli akan
menghasilkan teori yang berbeda, tidak saling berhubungan bahkan saling
berlawanan. Teori-teori kepribadian dikelompokan berdasarkan paradigma yang
digunakan untuk mengembangkannya. Ada emapt paradigma yang banyak digunakan
sebagai acuan memahami kepribadian individu.
2.
Paradigma Psikoanalitik
Dua asumsi dasar bahwa manusia adalah bagian dari
dunia binatang dan manusia adalah bagian dari sistem enerji. Asumsi ke dua
dapat dipandang sebagai kelanjutan asumsi pertama, sebagai binantang manusia
adalah organisme hidup yang membutuhkan enerji dan hidup berarti mampu
mengelola enerji yang dimilikinya.
Kunci utama memahami manusia menurut paradigma
Psikoanalitik adalah mengenali insting-insting seksual dan agresi—dorongan
biologik yang membutuhkan kepuasan. Insting yang bersifat heriditer ini
berkembang sejalan dengan pertumbuhan usia, dalam mana perkembangan biologik
menyediakan bagian-bagian tubuh tertentu untuk menjadi pusat sensasi kepuasan. Sepanjang
hidup seseorang akan menghadapi gangguan, mengalami konflik yang mengganggu
pencapaian kepuasan. Semua penyebab ketidakpuasan merupakan metafora dari virus
pengganggu yang harus dieliminasi, jika individu ingin memperoleh kembali hidup
dalam kepuasan—hidup sehat.
Enerji psikis oleh manusia harus dimanfaatkan
untuk sesuatu hal yang positif, untuk kemaslahatan diri. Manakala enerji psikis
dipakai secara salah maka manusia tidak memperoleh kepuasan secara wajar,
sehingga muncullah simpton-simpton neurotik. Psikoanalitik mencoba menjelaskan
bagaimana membebaskan enerji yang digunakan oleh simpton neurotik,
mengembalikan jalur enerji instingtif ke aktivitas yang dihekendaki.
Teori Psikoanalitik dikembangkan pertamakali oleh
Sigmund Freud. Belakangan banyak pengikutnya yang mengembangkan teori psikologi
kepribadiannya sendiri. Para pengikutnya di ataranya adalah: C.G.Yung, A.
Adler, Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, H.S. Sullivan. Setiap teori
memerikan wujud kepribadian, bagaimana struktur, dinamika, dan perkembangan
elemen-elemen pendukungnya. Kebanyakan pakar Psikoanalitik berlatar profesi
medik (Psikiater), maka mereka menempatkan diri sebagai terapis, teknik yang
dipakai catharsis dan free association keduanya dipandang
sebagai ”pil ajaib” untuk menyembuhkan penyakit psikis.
3.
Paradigma Trait
Paradigma Trait ini berbeda jauh dengan
Psikoanalitik, berkembang menjadi Psikologi Eksperimen. Pakar Psikologi
Eksperimen adalah Wilhelm Wundt. Psikologi Eksperimen memandang psikologi
adalah ilmu yang mempelajari kesadaran. Wundt mencoba menemukan elemen dasar
dari pengalaman, memakai teknik-teknik yang semula digunakan untuk eksperimen
fisiologi dan pengindraan, dan teknik introspeksi. Menurutnya, untuk memahami
tingkah laku harus diketahui terlebih dahulu unsur-unsur terkecil yang
mendukung terjadinya tingkah laku di dalam diri manusia. Pendekatan ini yang
pada awalnya berkembang dan dikenal sebagai Psikologi Strukturalisme yang pada
akhirnya berkembang luas di awal sejarah psikologi
Pada perkembangan berikutnya strukturalisme
dipandang tidak pragmatis dan metode introspeksi eksperimen terbukti kurang
obyektif. Akhirnya muncul pemikiran baru yaitu bidang Psikologi Fungsionalisme,
Psikologi Gestalt, dan Psikologi Behaviorime.
Tradisi Fungsionalisme menguraikan tentang habit,
ingatan, berfikir, motivasi, dan fungsi jiwa yang lain. William James memandang
bahwa manusia adalah kumpulan potensi-potensi dan kepribadian adalah
aktualisasi potensi-potensi—bagaimana potensi digunakan dalam kehidupan.
Pemahaman dan pengukuran besarnya potensi manusia menjadi domain kajian tradisi
Psikologi Pengukuran. Tes psikologi mengukur aktualisasi suatu potensi kemudian
menyimpulkan bagian dari potensi yang sudah difungsikan walaupun bagian yang
masih laten. Metode kuesioner untuk mempelajari perbedaan individu yang
dikembangkan oleh psikologi pengukuran yang tidak terpisahkan dengan psikologi
kepribadian.
Teori Trait dipelopori oleh William James,
Murray, Abraham Maslow, R.Cattel, Eysenck, Allport, dan yang lainnya. Muara
teori kepribadian adalah pengenalan terhadap model-model fungsi kepribadian
dalam kehidupan. Cattel dan Eysenck memakai analisis faktor untuk menemukan
faktor yang saling asing dan Murray memakai pendekatan eklektik-interdisiplin
dari metoda observasi-interview-kuesioner-proyektif-eksperimen untuk menemukan
jenis-jenis need. Kepribadian diamati
dalam kaitannnya dengan fungsinya terhadap lingkungan. Paradigma Trait lebih
banyak membahas prediksi-prediksi tingkah laku. Nilai praktis dari psikologi
kepribadian menjadi sangat tinggi di bidang pendidikan, industri, militer, dan
lainnya, dalam arti memprediksikan keberhasilan individu dalam bidang tertentu,
memilih atau menempatkan seorang yang tepat pada tempat yang tepat pula.
4.
Paradigma Kognitif
Gestalt adalah kesatuan, keseluruhan, pola
konfigurasi. Pengalaman manusia selalu membentuk kesatuan yang memiliki pola
dan konfigurasi tertentu. Max Wertheimer membangun teori Gestalt dari temuannya
phy nomenon: ilusi bahwa mobil yang
kita naiki sedang berhenti terasa bergerak ketika mobil di sebelah kita
bergerak. Itu pertanda atau bukti bahwa pengalaman baru sesudah diterima indra
tidak dipersepsi apa adanya, tetapi digabung lebih dahulu dengan pengalaman
lama. Teori Gestalt berangkat dari asumsi dasar bahwa manusia sebagai pemeroses
informasi.
Paradigma kognitif menggunakan kontekstualisme
sebagai akar metafora. Konsep dasarnya adalah: keyakinan dan pikiran seseorang
menjadi kunci memahami tingkah laku. Ingatan, pikiran, dan keyakinan ini
mempunyai referensi khusus terhadap dunia. Persepsi adalah hasil kerja simultan
antara dunia (stimulus) dengan pemerhati (kecenderungan untuk memproleh gestalt
yang bagus).
Dunia pendidikan dan sekolah terbantu oleh teori
Gestalt, yang secara intensif meneliti bagaimana pikiran, motivasi, perasaan,
dan ingatan bekerja dalam kesatuan menangkap sensasi-sensasi baru, bagaimana
seseorang mempelajari pengalaman baru.
Para pakar kepribadian meyakini paradigma
kognitif seperti: Kurt Lewin, George Kelly, Carl Rogers, Mechael dan Bandura,
cenderung akrab dengan filsafat humanisme. Carl Rogers berpendapat bahwa yang
paling tahu tentang diri seseorang adalah diri orang itu sendiri. Setiap orang
memiliki kemampuan untuk memilih yang terbaik bagi dirinya, dan jika terjadi
kesalahan tingkah laku, hanya si penderita sendirilah yang dapat mengkoresinya.
Proses itu dilakukan di tengah-tengah lingkungan yang berperan sebagai
fasilitator, sumber informasi, dan penyedia alternatif. Teknik empathy dan unconditioning positive regard dikembangkan sebagai penghargaan
terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ketika membantu mengatasi tingkah laku yang
tidak dikehendaki, penekanannya bukan sekadar mengatakan kepada orang itu bahwa
ada masalah dengan pikirannya, tetapi paradigma kognitif berusaha mengungkapkan
bahwa cara pandang seseorang mencerminkan bagaimana dunia itu bergerak dan cara
bagaimana otaknya bekerja. Tetapi kognitif berusaha mendorong orang untuk
mengubah keberadaannya di dunianya; mendorong orang untuk berpikir yang baik
tentang dirinya sendiri, di samping mendorong orang untuk memilih lingkungan
yang tepat dengan dirinya.
5.
Paradigma Behaviorisme
Kondisioning meyakini bahwa manusia adalah mesin.
Tingkah laku manusia itu fungsi stimulus, artinya, diterminan tingkah laku
tidak berada di dalam diri manusia tetapi berada di lingkungan. Metafora
mekanis semacam itu mungkin dapat dimasukkan ke dalam semua paradigma, walaupun
yang paling cocok adalah masuk ke dalam psikologi eksperimen, khususnya
behaviorisme. Pendekatan Psikoanalitik bersifat mekanistik karena memandang
tingkah laku manusia fungsi dari pengalaman masa lalu. Artinya tingkah laku
orang dewasa sekarang bukan ditentukan oleh sistuasi—dorongan—pertimbangan
rasional sekarang, tetapi ditentukan oleh pengalaman masa kecil di bawah 5
tahun. Pendekatan Trait dan Kognitif juga memakai jargon sebab-akibat, yang
berarti merefleksikan model berpikir mekanisme.
Teori Behaviorisme lebih dekat dengan teori
belajar. Pakar behaviorisme berusaha menjelaskan bagaimana manusia berinteraksi
dengan lingkungan dan bagaimana tingkah laku dapat berubah sebagai dampak dari
interaksi itu. Perubahan tingkah laku, apakah itu pengembangan tingkah laku
yang lama atau perolehan tingkah laku baru, semuanya di sebut belajar. Teori belajar menjadi teori
psikologi kepribadian ketika yang dipelajari tingkah laku yang kompleks, yang
repertoirnya membutuhkan waktu cukup panjang.
Pavlov, Skinner, Watson dalam berbagai eksperimen
mencoba menunjukkan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku. Semua
tingkah laku termasuk tingkah laku yang tidak dikehendaki diperoleh melalui
belajar, dan mengubah tingkah laku itu dilakukan juga dengan mempelajari
tingkah laku baru sebagai pengganti. Faktor pendorong agar orang bersedia
bertingkah laku mengikuti kemauan lingkungan, di sebut reinforcement. Modifikasi tingkah laku pada paradigma behaviorisme
tidak lain dan tidak bukan adalah management
reinforcement. Pada anak-anak dan orang dewasa yang kemampuan kecerdasan
dan berpikirnya rendah, pengubahan tingkah laku dengan menajemen reinforcement
menjadi pilihan yang lebih luas dipakai.
C. Pengertian Kepribadian
Kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa
inggris personality. Kata Personality sendiri berasal dari bahasa
latin pesona, yang berarti topeng
yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan. Pada
saat pertunjukan para aktor tidak menampilkan kepribadian yang
sesungguhnya—menyembunyikan kepribadiaannya yang asli, dan menampilkan dirinya
sesuai dari topeng yang digunakannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian
digunakan untuk menggambarkan (1) identitas diri, jati diri seseorang, seperti:
“Saya seorang yang pandai bergaul dengan siapa saja”, atau “Saya seorang
pendiam”, (2) kesan seseorang tentang diri anda atau orang lain, seperti “Dia
agresif”, atau “Dia jujur”, dan (3) fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau
bermasalah, seperti: “Dia baik”, atau “Dia pendendam”. Beberapa istilah dalam teori psikologi kepribadian diberi makna
yabg berbeda-beda. Istilah yang berdekatan maknanya antara lain:
1. Personality
(kepribadian): penggambaran tingkah laku secara
deskriptif tanpa memberi nilai (devaluative).
2. Character
(karakter): penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan
nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
3. Dispotition
(watak): karakter yang telah lama dimiliki dan sampai
sekarang belum berubah
4. Temperamen
(temperamen): kepribadian yang berkaitan erat dengan
determinan biologik atau fisiologik, disposisi hereditas.
5. Traits
(sifat): respon yang senada (sama) terhadap sekelompok
stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
6. Type–attribute
(ciri): mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli
yang lebih terbatas.
7. Habit:
kebiasaan respon yang sama cenderung berulang untuk
stimulus yang sama pula.
Untuk memperoleh pemahaman tentang kepribadian,
berikut dikemukakan beberapa pengertian dari para ahli.
1. Hall dan Lindzey mengemukakan bahwa secara
populer, kepribadian dapat diartikan sebagai (1) keterampilan atau kecakapan
sosial (social skill), dan (2) kesan
yang paling menonjol, yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap orang lain
(seperti orang yang dikesani sebagai agresif, atau pendiam).
2. Woodworth mengemukakan bahwa kepribadian
merupakan “kualitas tingkah laku total individu”.
3. Stern mengemukakan bahwa kepribadian adalah
kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai
tujuan, kemampuannya bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh
pengalaman.
4. Guilford mengemukakan bahwa kepribadian
adalah pola trait-trait yang unik dari seseorang.
5. Pervin mengemukakan kepribadian adalah
seluruh karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang mengakibatkan
pola yang menetap dalam merespon suatu situasi.
6. Maddy atau Burt mengemukakan bahwa kepribadian
adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil yang menentukan
keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berpikir, perasaan, dan
perbuatan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat difahami
secara sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologik saat
itu.
7. Dashiell mengartikannya sebagai “gambaran
total tentang tingkah laku individu yang terorganisasi”
8. Allport mengemukakan lima tipe definisi
kepribadian sebagai berikut:
a. Rag-Bag
(omnibus), yang merumuskan kepribadiannya dengan cara enumeasi
(menjumlahkan). Contohnya definisi dari Morton Prince, yaitu “kepribadian
merupakan sejumlah disposisi biologis, impuls-impuls,
kecenderungan-kecenderungan, dan instink-instink bawaan, dan disposisi lain
yang diperoleh melalui pengalaman.
b. Integratif
dan Konfiguratif, yang menekankan kepada organisasi cir-ciri
pribadi, seperti definisi dari Warren dan Carmichaeles “kepribadian sebagai
organisasi tentang pribadi manusia atau individu pada setiap tahap
perkembangan”.
c. Hirarchis,
seperti yang dikemukakan oleh Wlliam James, yaitu kepribadian itu dinyatakan
dalam empat pribadi (selves): material
self, social self, spiritual self, dan
puriego atau self of self.
d. Adjustment,
seperti definisi dan kempfis, yaitu sebagai “integrasi dari sistem kebiasaan
individu dalam menyesuaikan dirinya dalam lingkungannya”
e. Distinctiveness
(Uniqueness), seperti yang dikemukakan oleh Shoen, yaitu
“sistem disposisi dan kebiasaan yang membedakan antara individu yang satu
dengan yang lainnya dalam satu kelompok yang sama.
Selanjutnya Allport mengemukakan pendapatnya
sendiri tentang pengertian kepribadian ini, yaitu “Personality is the dinamic
organization within the individual of those psychophysical systems that
determine his unique adjustment to his environtment”. Maksudnya adalah
“kepribadian merupakan organisasi yang dinamis dalam individu tentang sistem
psikofisik yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya”.
Pengertian tersebut dapat diartikan sebagai
berikut.
1. Dynamic,
merujuk kepada perubahan kualitas perilaku (karakteristik) individu, dari waktu
ke waktu, atau dari situasi ke situasi.
2. Organization,
yang menekankan pemolaan bagian-bagian struktur kepribadian yang independen,
yang masing-masing bagian tersebut mempunyai hubungan khusus satu sama lainnya.
Ini menunjukkan bahwa kepribadian itu bukan kumpulan sifat-sifat, dalam arti
satu sifat ditambah dengan yang lainnya, melainkan keterkaitan antara
sifat-sifat tersebut, yang satu sama lainnya saling berhubungan atau
berinterelasi.
3. Psychophysical Systems,
yang terdiri atas kebiasaan, sikap, emosi, motif, keyakinan, yang kesemuanya
merupakan aspek psikis, tetapi mempunyai dasar fisik dalam diri individu,
seperti: syaraf, kelenjar, atau tubuh individu secara keseluruhan. Sistem
psikofisik ini meskipun mempunyai fondasi pembawaan, namun dalam
perkembangannya lebih dipengaruhi oleh hasil belajar, atau diperoleh melalui
pengalaman.
4. Determine,
yang menunjuk pada peranan motivasional sistem psikofisik. Dalam diri individu,
sistem ini mendasari kegiatan-kegiatan yang khas, yang mempengaruhi
bentuk-bentuk. Sikap, keyakinan, kebiasaan, atau elemen-elemen sistem
psikofisik lainnya muncul melalui sistem stimulus, baik dari lingkungan, maupun
dari dalam diri individu sendiri.
5. Unique,
yang menunjuk pada keunikan atau keragaman tingkah laku individu sebagai
ekspresi dari pola sistem psikofisiknya. Dalam proses penyesuaian diri terhadap
lingkungan, tidak ada reaksi atau respon yang sama dari dua orang, meskipun
kembar identik.
Berdasarkan pengerian teori dan kepribadian di
atas maka, istilah teori kepribadian dapat diartikan sebagai “Seperangkat
asumsi tentang kualitas tingkah laku manusia beserta definisi-definisi
empirisnya.
Mengenai asumsi ini dapat diberikan contohnya
sebagai berikut:
1.
Semua tingkahlaku dilatarbelakangi motivasi
2.
Kecemasan yang tinggi menyebabkan penurunan
mutu kegiatan bekerja atau belajar
3.
Perkembangan (psikofisik) individu
dipengaruhi oleh pembawaan, lingkungan, dan kematangan. Asumsi ini sering
dinyatakan dalam formula
4.
P (I)= F (H.E.T/M), dimana P= Person, I=
Individu, F= Function, H= Heredity (pembawaan/keturunan), E= Environment
(lingkungan), T= Time, dan M= Maturation (kematangan).
Menurut Pervin teori kepribadian itu merupakan
upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan “what, how, dan why”. Pertanyaan
“what” terkait dengan karakteristik seseorang dan bagaimana karakteristik
tersebut diorganisasikan dalam hubungannya dengan orang lain. Seperti
pertanyaan “Apakah dia jujur, ajeg, dan memiliki kebutuhan berprestasi yang
tinggi?” Pertanyaan “how” merujuk kepada fakto-faktor yang mempengaruhi
kepribadian, seperti “Bagaimana faktor genetika dan lingkungan berinteraksi
dalam mempengaruhi kepribadian?” Sementara pertanyaan “why” merujuk kepada
faktor motivasional individu berperilaku, seperti pertanyaan “Mengapa seseorang
mengalami depresi?” Jawabannya mungkin, karena dia dihina orang, kehilangan
orang yang dikasihinya, atau karena dia tidak lulus ujian.
Selanjutnya ia mengemukakan hakikat kepribadian
manusia, yaitu sebagai berikut :
1. Manusia
merupakan makhluk yang unik dibandingkan dengan makhluk (species) lainnya,
seperti hewan. Dibandingkan dengan hewan, manusia lebih
tergantung kepada faktor psikologis, ia kurang tergantung kepada faktor
biologis. Manusia mempunyai kemampuan berfikir konseptual, dan berbahasa atau
berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol, sedangkan hewan tidak
memilikinya. Dengan kata lain yang membedakan manusia dan hewan adalah
kemampuan berbahasa. Namun dalam hal kematangan, manusia lebih lambat
dibandingkan dengan hewan.
2. Tingkah
laku manusia bersifat kompleks. Untuk memahami kepribadian
harus mampu mengapresiasi tentang kompleksitas tingkah laku manusia. Seringkali
terjadi satu perilaku muncul disebabkan oleh beberapa faktor, seperti masalah
“depresi” yang telah dikemukakan di atas. Satu perilaku yang sama pada beberapa
orang, mungkin disebabkan oleh beberapa faktor yang berbeda-beda, seperti: Surini
mengalami stress, karena dia takut tidak lulus ujian; sementara Budi mengalami
stress, karena di PHK (diputus hubungan kerja) oleh kantornya.
3. Manusia
tidak selalu menyadari atau dapat mengontrol faktor-faktor yang menentukan
tingkah lakunya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam
suatu saat manusia tidak dapat menjelaskan mengapa melakukan sesuatu, atau akan
melakukan sesuatu dengan suatu cara yang sebenarnya berlawanan dengan
keinginannya sendiri.
D. Pola Kepribadian
Elizabeth B. Hurlock (1978) mengemukakan bahwa
pola kepribadian merupakan suatu penyatuan struktur yang multidimensi yang
terdiri atas “self-concept” sebagai
inti atau pusat gravitasi kepribadian dan “traits”
sebagai struktur yang mengintegrasikan kecenderungan pola-pola respon. Setiap
pola itu dibahas dalam paparan berikut.
1. Self-concept
(Concept of self )
Self-concept ini dapat diartikan sebagai (a) persepsi, keyakinan, perasaan, atau
sikap seseorang tentang dirinya sendiri; (b) kualitas penyikapan individu
tentang dirinya sendiri; dan (c) suatu sistem pemaknaan individu tentang
dirinya sendiri dan pandangan orang lain tentang dirinya.
Self-concept ini memiliki
tiga komponen, yaitu: (a) perceptual atau physical self-concept, citra
seseotang tentang penampilan dirinya (kemenarikan tubuh atau bodinya), seperti:
kecantikan, keindahan, atau kemolekan tubuhnya; (b) conceptual atau
psychological self-concept, konsep seseorang tentang kemampuan (keunggulan)
dan ketidakmampuan (kelemahan) dirinya, dan masa depannya, serta meliputi
kualitas penyesuaian hidupnya: honesty, self-confidence, independence, dan
courage; dan (c) attitudinal, yang menyangkut perasaan seseorang
tentang dirinya, sikapnya terhadap keberadaan dirinya sekarang dan masa
depannya, sikapnya terhadap keberhargaan, kebanggaan, dan kepenghinaannya.
Apabila seseorang sudah masuk masa dewasa, komponen ketiga ini juga terkait
dengan aspek-aspek: keyakinan, nilai-nilai, idealita, aspirasi, dan komitmen
terhadap way of life hidupnya.
Dilihat dari jenisnya, self-concept ini terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai
berikut.:
a. The Basic Self-concept. Jane menyebutnya “real-self”,
yaitu konsep seseorang tentang dirinya sebagaimana adanya. Jenis ini meliputi :
persepsi seseorang tentang penampilan dirinya, kemampuan dan ketidakmampuannya,
peranan dan status dalam kehidupannya, dan nilai-nilai, keyakinan, serta
aspirasinya.
b. The Transitory Self-concept. Ini artinya bahwa seseorang
memiliki “self-concept” yang pada
suatu saat dia, memegangnya, tetapi pada saat lain dia melepaskannya. “self-concept” ini mungkin menyenangkan
tapi juga tidak menyenangkan. Kondisinya sangat situasional, sangat dipengaruhi
oleh suasana perasaan (emosi), atau pengalaman yang lalu.
c. The Social Self-concept. Jenis ini berkembang berdasarkan
cara individu mempercayai orang lain yang mempersepsi dirinya, baik melalui
perkataan maupun tindakan. Jenis ini sering juga dikatakan sebagai “mirror image”. Contoh: jika kepada
seorang anak dikatakan secara terus-menerus bahwa dirinya “naughty” (nakal), maka dia akan mengembangkan konsep dirinya
sebagai anak yang nakal. Perkembangan konsep diri sosial seseorang dipengaruhi
oleh jenis kelompok sosial dimana dia hidup, baik keluarga, sekolah, teman
sebaya, atau masyarakat. Jersild mengatakan bahwa apabila seorang anak
diterima, dicintai, dan dihargai oleh orang-orang yang berarti baginya (yang
pertama orang tuanya, kemudian guru, dan teman) maka anak akan dapat
mengembangkan sikap untuk menerima dan menghargai dirinya sendiri. Namun
apabila orang-orang yang berarti (signifant others) itu menghina,
menyalahkan, dan menolaknya, maka anak akan mengembangkan sikap-sikap yang
tidak menyenangkan bagi dirinya sendiri.
d. The Ideal Self-concept. Konsep diri ideal merupakan
persepsi seseorang tentang apa yang diinginkan mengenai dirinya, atau keyakinan
tentang apa yang seharusnya mengenai dirinya. Konsep diri ideal ini terkait
dengan citra fisik maupun psikhis. Pada masa anak terdapat diskrepansi yang
cukup renggang antara konsep diri ideal dengan konsep diri yang lainnya. Namun
diskrepansi itu dapat berkurang seiring dengan berkembangnya usia anak
(terutama apabila seseorang sudah masuk usia dewasa).
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM
Press.
Boeree, C.G. 2006. Personality Theories.Melacak Kepribadian
Anda Bersama Psikolog Dunia. Terjemahan oleh Inyik Rindwan Muzir.
Yogyakarta: Prismasophie
Hurlock, E.B. 1987. Personality Development. New Delhi:
McGraw-Hill Publishing Company.
Schneiders. A.A. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New
York: Winston.
Suryabrata, S. 2003. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada Press.
Wenzler, G dan Cremer. 1993.
Proses Pengembangan Diri: Permainan dan
Latihan Dinamika Kelompok. Jakarta: Grasindo.
Yusuf, Sy. 2002. Pengantar Teori Kepribadian. Bandung:
Jurusan PPB FIP UPI.
Langganan:
Komentar (Atom)